Translate

Asal kejadian jurnal@blog ini...

Asal kejadian isipati jurnal@blog ini adalah dari http://idanradzi.easyjournal.com tetapi nak jadi ceritera server sana asyik terhalang untuk diakses. Kini 2012 telah padam server Easyjournal ini.

Aku hanya sempat memindahkan sedikit sahaja data ke situs cermin ini. Alahai sedih amat.

Situs ini lebih kepada keterbukaan dalam soal Politik, usah dilabelkan situs haluan kiri atau pro parti mana pun. Pemilik asalnya adalah seorang Penyair nan lebih suka mendalami jiwa rakyat marhaen.

Bantu

Jumaat, 15 September 2000

Daya tarik cinta ( Delima Merkah )


Mengapa Romeo bisa jatuh cinta kepada Juliet? Mengapa Shah Jehan bisa tergila-gila kepada Mumtaz Mahal? Mengapa Roro Mendut bisa kasmaran dengan Pronocitro? Mengapa Anda bisa jatuh cinta pada kekasih anda saat ini? Jawabannya bisa beragam. Akan tetapi apapun jawabannya sebenarnya hanya ada satu esensinya, yakni bahwa mereka dicintai karena memiliki daya tarik.Mustahil kita bisa mencintai seseorang yang tidak memiliki daya tarik apapun. Pastilah yang kita cintai memiliki suatu daya tarik yang membuat kita tertarik untuk mendekat padanya. Daya tarik itu bisa beragam, bisa karena fisiknya yang menarik (cantik, tampan, atletis, atau seksi), bisa karena kesamaan (kesamaan minat, kesamaan latar belakang, dan lainnya), bisa karena kedekatan (sama-sama satu kampus, sama-sama satu gang), atau lainnya. Tulisan ini akan membahas prinsip-prinsip dasar dari daya tarik dan sumber daya tarik.
-
Prinsip dasar daya tarik
-
Penguatan. Kita menyukai orang yang memberikan respon positif atas sikap dan tindakan kita. Artinya bila sikap dan tindakan kita mendapatkan pujian dari seseorang maka kita akan cenderung untuk semakin menyukai orang tersebut. Berdasarkan prinsip ini, maka pujian terhadap pasangan sangat dianjurkan. Pujian akan menyebabkan pasangan merasa mendapat penguatan positif atas dirinya, dan itu berarti pula ia akan semakin menyukai kita. Resiprositas merupakan prinsip yang terkandung dalam prinsip penguatan. Prinsip ini menerangkan bahwa emosi positif cenderung akan dibalas dengan emosi positif. “I love you because you love me” demikian yang sering diungkapkan orang adalah benar adanya. Bila seseorang kita rasakan mencintai diri kita maka kitapun cenderung untuk mencintainya, minimal menyukainya. Jadi untuk bisa mendapatkan cinta kita tidak bisa menunggu, kita harus aktif mencintai dan maka kita akan dicintai.
-
Asosiasi. Kita cenderung menyukai orang yang diasosiasikan dengan hal-hal baik. Oleh karenanya menjauhlah dari hal-hal yang dilabeli buruk untuk mendapatkan cinta dari seseorang. Bila mabuk dianggap buruk janganlah kita mabuk karena kitapun akan dinilai buruk sebagai asosiasi dengan perilaku mabuk. Akibatnya kita menjadi tidak disukai. Agar disukai kita harus mendekatkan diri pada hal-hal yang positif.
-
Pertukaran yang seimbang. Setiap orang akan selalu memperhitungkan keuntungan dan kerugian dari suatu hubungan, meskipun tidak selalu eksplisit. Seseorang akan menyukai orang yang memberikannya hal-hal positif seperti keamanan, rasa dicintai, perhatian, dan lainnya. Sebaliknya bila hubungan dinilai merugikan, seseorang akan cenderung untuk mulai tidak menyukai pasangannya. Misalnya bila dalam hubungan seseorang merasa tidak mendapatkan perhatian sebesar perhatian yang diberikannya, maka ia cenderung untuk mulai tidak menyukai pasangannya.Pertukaran yang adil dalam hubungan mutlak penting. Ketidakseimbangan pertukaran menimbulkan ketidakpuasan dalam hubungan. Sebagai ilustrasi, Andi berpacaran dengan Ana selama lebih dari dua tahun. Selama itu Ana yang selalu datang ke rumah Andi, selalu membayari makan kalau makan diluar, selalu membelikan hadiah-hadiah, dan sebagainya. Sedangkan Andi tidak pernah melakukan apapun buat Ana, bahkan berterima kasihpun kadang tidak. Tentu saja Ana kemudian berpikir bahwa hubungan itu buruk karena apa yang dipertukarkan antara mereka tidak seimbang. Akhirnya Ana memutuskan untuk berpisah dari Andi.
-
Sumber Daya Tarik
-
Kesamaan. Apakah anda pernah mengingat-ingat dengan siapa anda lebih tertarik untuk berbicara? Kalau belum, pikirkanlah. Anda akan menemukan bahwa anda lebih suka berbicara dengan orang yang memiliki minat yang sama dengan anda. Demikian juga dalam hal cinta. Kita cenderung untuk menyukai seseorang yang memiliki kemiripan dengan diri kita baik secara fisik, karakteristik kepribadian, nilai-nilai, sikap, ataupun latar belakang. Prinsip kesamaan ini dikenal dengan nama ‘Matching Hypothesis’.
-
Kita cenderung untuk untuk membuat bentuk hubungan cinta dengan orang yang kita rasakan sama dengan diri kita dalam hal daya tarik fisik (Yela & Sangrador, 2001). Bila seseorang merasa tidak terlalu cantik, maka mungkin dia tidak akan mencintai orang yang terlalu tampan. Ia akan memilih orang yang kurang lebih setara dalam daya tarik fisik. Mudah kita temui umumnya pasangan cenderung lebih similar dalam hal daya tarik fisik.
-
Kita juga cenderung membuat hubungan cinta dengan orang yang memiliki kemiripan karakteristik kepribadian dengan kita. Laki-laki dengan karakteristik kepribadian hipermaskulin (menikmati tantangan dan bahaya, percaya bahwa agresivitas adalah ciri laki-laki sejati, mengekpresikan keyakinan kurang berperasaan terhadap seks dan wanita) akan cenderung saling menyukai dengan perempuan hiperfeminin (percaya bahwa dirinya sukses bila bisa membentuk hubungan dengan laki-laki, menggunakan seksualitasnya sebagai aset, dan menerima agresivitas laki-laki). Seseorang yang terbuka juga cenderung menyukai orang yang sama terbukanya dengan dirinya. Seseorang yang menyukai petualangan umumnya juga akan menyukai orang yang suka berpetualang.
-
Kita akan cenderung untuk menyukai orang yang memvalidasi atau membenarkan sikap-sikap kita. Oleh karena itu kesamaan sikap merupakan faktor penting dalam daya tarik. Bila dua orang selalu memiliki sikap yang berbeda maka kemungkinan terjadinya hubungan kecil. Perbedaan sikap akan membuat sikap-sikap yang dimiliki seseorang dikonfrontir sehingga membuat tidak nyaman. Misalnya saja anda adalah aktivis yang sangat mendukung kesetaraan jender, tapi sementara itu pasangan anda menginginkan anda hanya tinggal dirumah saja bila menikah. Apakah kira-kira anda akan terus menyukai pasangan anda?
-
Kesamaan nilai-nilai yang dianut juga salah satu faktor daya tarik. Bila kita muslim maka kita cenderung untuk menyukai muslim juga, terutama bila kita muslim yang taat. Kecenderungan ini barangkali tumbuh dari pertimbangan rasional bahwa mencintai orang yang berbeda nilai sama sekali sia-sia karena kecil kemungkinan cinta itu terwujud dalam hubungan. Lihatlah sekitar kita, kita akan menemui pasangan-pasangan dengan latar belakang yang kurang lebih sama. Kisah Cinderella, seorang gadis miskin menikah dengan pangeran kaya raya adalah kasus langka, dan bahkan mungkin hanya ditemui dalam dongeng. Pada kenyataannya umumnya pasangan relatif setara dalam hal etnisitas, kondisi ekonomi keluarga, umur, keyakinan, pendidikan, dan lainnya. Prinsip kesamaan ini bisa menjelaskan kenapa perantau-perantau yang jauh dari kampung halaman, toh akhirnya di rantau mendapatkan orang sekampung juga.
-
Keakraban. Keakraban merupakan faktor yang turut menentukan apakah kita akan mencintai seseorang. Semakin akrab diri kita dengan seseorang maka kita akan cenderung semakin menyukainya. Dua orang yang semakin akrab juga akan ‘merasa’ semakin memiliki banyak kesamaan. Tidaklah mengherankan bila banyak hubungan cinta terbangun setelah melalui proses menjadi akrab. Pepatah klasik “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta” bukanlah pepatah tanpa dasar.
-
Kedekatan fisik (propinquity). Faktor kedekatan fisik (tempat tinggal, kampus, tempat kerja) merupakan prediktor terbaik untuk melihat apakah diantara mereka akan saling mencintai dan menjalin hubungan cinta. Lihatlah disekitar kita, mereka yang saling mencintai selalu berawal karena kedekatan fisik; sama-sama satu kos, sama-sama satu kampus, sama-sama satu organisasi, sama-sama satu RT, sama-sama satu tempat kerja, dan lainnya.
-
Daya tarik pribadi. Daya tarik pribadi merupakan faktor yang paling menentukan apakah seseorang akan mencintai atau tidak. Penilaian daya tarik pribadi adalah penilaian utama sebelum memutuskan mencintai. Daya tarik pribadi terdiri dari dari daya tarik fisik, daya tarik kepribadian, dan daya tarik sosial. Sebuah penelitian tentang daya tarik yang dilakukan oleh Faturochman di Yogyakarta pada tahun 1988, menunjukkan bahwa pada umumnya orang lebih mengukur faktor psikis seperti nilai-nilai, kepribadian, kecerdasan, prestasi, dan keberhasilan daripada faktor yang bersifat fisik seperti ketampanan atau kecantikan dan kedekatan fisik (Faturochman, 1988). Jadi, jangan khawatir bila anda merasa fisik anda tidak cukup ideal. Asalkan faktor psikis anda baik, maka anda akan jauh lebih dihargai daripada yang hanya mengandalkan daya tarik fisik semata.
-
Daya tarik fisik. Seperti yang sudah disinggung dimuka, kita cenderung untuk menyukai orang yang memiliki daya tarik fisik yang kurang lebih serupa dengan diri kita. Misalnya kita memilih orang yang satu ras dengan kita dimana perbedaan fisik tidak begitu terlihat kontras. Kita juga cenderung memilih orang yang memiliki warna kulit yang agak mirip, tinggi badan yang hampir sama, sampai berat badan yang tidak jauh berbeda. Namun kita berkecenderungan untuk menilai yang kita cintai memiliki daya tarik fisik yang sedikit lebih tinggi dibandingkan diri kita (Yela & Sangrador, 2001). Hal ini membuat kita merasa cukup puas mendapatkan cinta dari yang kita cintai, karena kita merasa mendapatkan seseorang yang lebih menarik. Hal ini dikarenakan tubuh juga merupakan sumber harga diri (Goldenberg, McCoy, Grennberg, Pyszczynski, Solomon, 2000), dan persepsi adanya daya tarik yang lebih tinggi dari pasangan akan membuat harga diri kita lebih positif.
-
Pada umumnya perempuan yang cantik dan laki-laki yang tampan, perempuan yang seksi dan laki-laki yang atletis paling disukai dalam berbagai hubungan termasuk hubungan cinta. Maka bersyukurlah mereka yang cantik dan tampan. setidaknya mereka berkesempatan memilih pasangan yang lebih banyak. Namun standar kecantikan dan ketampanan itu sendiri tidak tetap karena kecantikan sangatlah subjektif. Namun sulit kiranya untuk mengatakan Tamara Blezynki, Dian Sastro dan Tessa Kaunang, tidak cantik. Sebagaimana sulit untuk mengatakan Ferdi Hasan, Nicolas Saputra dan Onky Alexander tidak tampan.
-
Daya tarik kepribadian. Daya tarik kepribadian terkait dengan karakteristik pribadi seseorang. Pada penelitian Faturochman (1988) jelas menunjukkan bahwa daya tarik kepribadian dinilai jauh lebih penting daripada daya tarik fisik. Seseorang yang tidak terlalu tampan akan tetapi berkepribadian menyenangkan akan memiliki daya tarik yang lebih besar daripada bila seseorang tampan tapi berkepribadian tidak menyenangkan atau jelek.
-
Daya tarik sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa status seseorang secara sosial merupakan sumber daya tarik. Status dimaksud bisa terkait dengan ekonomi, kekuasaan, respek sosial, dan lainnya. Anda tentu berpikir sekian kali untuk menikah dengan seseorang yang tidak berpenghasilan, miskin, dan diabaikan masyarakat. Sebaliknya anda mungkin akan sangat tertarik dengan orang yang cukup kaya, apalagi jika berkuasa, dan dihormati masyarakat sekaligus.Daya tarik sosial tidak berarti hanya apa yang telah dimiliki seseorang, akan tetapi juga potensi seseorang untuk mendapatkannya. Bila mahasiswa dari universitas ternama dan dari jurusan favorit dianggap lebih memiliki peluang untuk mendapatkan berbagai status sosial yang tinggi, maka mereka juga akan lebih menarik sebagai pasangan. Di Inggris, lulusan Oxford University atau Cambridge University adalah yang paling menarik untuk dijadikan pasangan. Di Amerika Serikat, lulusan Berkeley, Stanford, Harvard, MIT, termasuk paling disukai sebagai pasangan. Di Indonesia, lulusan dari ITB, UGM, UI dan beberapa universitas besar lainnya lebih disukai sebagai pasangan. (Achmanto Mendatu)

PSIKOLOGI Online

Selasa, 1 Ogos 2000

Cerpen: Biak ( Delima Merkah )


Oleh Sabri Hashim

NAMAKU Biak @ Ketum. Aku tinggal di kaki bukit ini. Sejak zaman berzaman di sinilah tempat datuk nenek moyangku tinggal. Akarku tumbuh kuat mencengkam bumi dan pucukku segar tinggi di awan. Suasananya aman dan damai. Langit biru dan air jernih mengalir di celah belukar. Beburung dan segala jenis mergastua suka bermain dan mencari makanan di tempat yang subur ini. Selain aku, Keriang Dot, Durian, Jati, Petai, Setoi, Jering dan Rambutan juga hidup di sini. Kami sama-sama membesar dengan gembiranya.

Di sini tidak lokek ruang. Ada untuk semua. Masing-masing dapat melepaskan pucuk muda merasakan kehangatan cahaya matahari. Seronok lihat pelbagai warna kehidupan berselang-seli. Pada waktu pagi kelihatan tompok-tompok putih kabus. Air embun berkilau menitik di hujung daun. Sejuk. Menjelang tengah hari warna hijau terang mewarnai suasana. Kecantikannya terasa bergetar dalam hati sesiapa yang memandangnya.

Syahdu. Bila senja tiba warna-warna jingga terpalit di kaki langit. Haiwan riuh-rendah pulang ke sarang. Waktu malam hitam pekat. Sang cengkerik bunyi riang. Sesekali sayup kedengaran suara kuang meningkah. Begitulah asyik dan nikmatnya tempatku ini.

Tapi keadaan ini tidak berkekalan. Kusangka panas hingga ke petang rupa-rupanya hujan di tengah hari. Semuanya bermula pada suatu pagi yang malang. Tika itu, kulihat tiga orang lelaki asing memasuki kawasan kami. Mereka terus datang ke tempatku. Pada mulanya aku ingat mereka ini ingin mencari buah durian gugur. Tapi ternyata telahanku meleset. Mereka sebenarnya sedang mencari diriku ini. Dan kini sudah ditemui oleh

mereka. Pandangan mata mereka tajam merenung daunku. Pabila dapat, mereka mencantas dan melurut ganas daunku. Satu demi satu, guni baja mereka sumbatkan.

Lama kelamaan terceratuk sepuluh guni baja di sisi tubuhku. Menjelang tengah hari, tugas mereka pun selesai. Dengan pantas mereka beredar dari sini. Di hujung desa kelihatan sebuah kereta Nissan tua bergerak laju menuju ke bandar.

Selepas 30 minit perjalanan, daun-daunku itupun tiba di sebuah rumah kawan mereka.

Ia terletak dalam kawasan perumahan. Tanpa henti rehat, mereka terus merebus daun-daunku itu di dalam sebuah periuk besar. Kemudian mereka sengaja memasukkan bersama lima puluh keping lingkaran ubat nyamuk. Ramuan itu mereka kacau sehingga menjadi satu larutan yang berwarna hijau kuning kekuningan. Petua ini mereka dapat daripada seorang bomoh seberang. Baru ada kick lebih, katanya. Air daunku itu mereka bungkus dengan beberapa beg plastik kecil. Pabila selesai, mereka angkut bungkusan tersebut balik ke kampung tadi.

Ini mereka kerjakan pada waktu malam, tanpa dilihat sesiapa. Di sana mereka edar ke semua ceruk warung kampung. Mat-mat Gian nanti boleh mendapatkannya pada harga murah RM4 sebungkus. Esok, bila matahari terbit, bermulalah diriku dikenali merata tempat sebagai satu minuman berkhasiat luar biasa - Biak.

Air daunku ini, hari demi hari, menerbitkan resah di kalangan penduduk kampung. Plastiknya bersepah di merata tempat. Di atas batas bendang, Pak Long Mat terjerembat

selonggok benda haram jadah ini. Anak padinya habis mati dipijak mereka. Dalam semak, Pak Ngah Tam terserempak pula sekumpulan lima orang Mat Gian tengah melanggah air daunku ini. Habis lunyai anak pisang dibuatnya. Di perdu pokok getah waktu Subuh, Mak Teh Timah tersandung kaki Mat Gian yang sedang tidur dekat situ. Plastik minumannya masih terlekat di tangan. Susu getah habis tumpah ke tanah. Lambat lepa saja getah sekerap gelang emas habis dikebas mereka. Selipar kasut di masjid dan di rumah juga tidak terkecuali. Anak dara orang dikacau, tidak kira malam atau siang.

Para pelajar sekolah pula diajak minum bersama mereka. Sesungguhnya air daunku ini

serta perangai Mat Gian buat orang kampung meluat. Mereka sudah tidak tahan lagi. Kalau ikutkan hati mau mereka takik sampai mati. Walaupun demikian, orang-orang kampung telah meminta Jawatankuasa Kemajuan Dan Keselamatan Kampung menangani masalah ini dengan segera. Lantas pada suatu malam lepas Isyak, mereka pun bermesyuarat di rumah Tuan Pengerusi.

“Assalamualaikum semua. Terima kasih kerana datang,” kata Tuan Pengerusi membuka kata.

“Saya rasa semua orang tahu, kenapa kita berada di sini malam ini. Tanpa berdolak-dalih lagi, saya nak tanya kepada tuan-tuan semua. Apakah tindakan kita sekarang?” sambung Tuan Pengerusi lagi seperti mahu menduga hati para hadirin.

“Kita laporkan saja kepada polis. Biar mereka kena tangkap. Tentang pokok biak itu, kita tebang esok atau lusa. Habis cerita,” ujar salah seorang ahli tanpa menunggu keizinan daripada Tuan Pengerusi untuk bercakap.

“Setuju! Saya setuju!!!” Sambut semua yang hadir. Kedengaran riuh-rendah suara mereka menjerit di ruang tamu rumah Tuan Pengerusi itu.

“Baiklah, kalau begitu saya akan uruskan perkara tersebut dalam sehari dua ini. Sebelum itu, silalah makan apa yang ada sebelum pulang. Terima kasih, sekian.”

Mesyuarat itu berlangsung tak sampai lima minit. Kata sepakat sudah diambil. Cepat sungguh ambil keputusan. Agaknya semua manusia beginikah? Apa pun, nasibku terletak di tangan mereka.

Pihak berkuasa merancang untuk menyerbu mereka pada waktu petang. Kerana pada masa itu kebanyakan mereka berada di situ. Tempat mereka di dalam semak di hujung desa. Dekat dengan kawasanku. Lebih kurang sepelaung saja. Kelihatan dua puluh orang

berada di situ. Sekelompok di sini. Sekelompok di sana. Dinding dan bumbung pondok mereka dibubuh dengan cebisan kotak. Cukup luas untuk berkumpul serta berkhayal dengan minuman air daunku itu. Ada juga yang cucuk heroin pada urat zakar mereka. Ada yang tonggang ubat batuk kodein sampai tersadai di akar pokok. Pil pelbagai warna bersepah di hadapan mereka. Keadaan mereka cukup selekeh dan kotor. Air mata dan hingus meleleh melekat kering di pipi mereka. Pakaian mereka serba lusuh dan kusam.

Badan berbau hapak dan hancing seperti sebulan tidak mandi. Kudis api berkapuk di kaki dan tangan. Setengahnya bernanah. Rambut panjang ala hipies berkerak dan menggerbang melepasi bahu macam hantu. Entah-entah kuman Aids sudah bersarang dalam tubuh mereka.

Tiada siapa tahu. Jalan pun tidak bermaya lesu-lesi. Mereka tidak ubah bagai bangkai bernyawa. Rata-rata usia mereka masih muda belia. Inikah harapan kampung? Kalau begini ling....

Bila tiba masa serbuan, pihak polis dengan mudahnya menangkap mereka. Tiada tentangan daripada mereka. Semasa itu, Mat Gian tengah asyik dan khayal dengan dunia mereka. Tak sempat nak cabut lari. Mereka diheret ke balai berdekatan untuk disiasat. Air daunku pun turut sama sebagai barang bukti. Hasilnya kampung itu aman kembali, tapi sekejap sahaja. Kenapa? Sebabnya tiada undang-undang khusus untuk mendakwa mereka di mahkamah kerana meminum air daunku. Yang ada hanya untuk pemilik dan pengedar air daunku sahaja. Itupun denda satu dua ribu dan penjara dua tiga bulan.

Lepas itu kembali mengedar sebabnya dapat duit banyak. Mana ada kerja dalam dunia ini sesenang itu dapat wang. Elok mereka ini dihukum sama seperti jenayah membunuh. Baru tahu langit tinggi rendah. Kerana mereka banyak yang hidup merana. Tiga-empat bulan kemudian, Mat-mat Gian ini datang kembali ke tempat itu. Orang-orang kampung terkejut dan naik bengang di atas kegagalan rancangan mereka. Mereka mula mencari-cari puncanya. Isu ini mereka sembang di mana-mana. Di masjid, di warung, di bendang, di jalan raya, di kedai runcit dengan wajah yang serius pada setiap waktu. Entah macam mana, entah siapa punya cerita namaku bermain di bibir mereka. Kalau elok tidak apa, ini tidak. Mereka menuduh semua ini aku punya angkara. Mereka bertekad untuk melenyapkan diriku selama-lamanya dari dunia ini dengan cara halus.

Diriku mula diuar-uarkan di dalam akhbar-akhbar tempatan. Gambarku yang tinggi lampai ditunjukkan kepada semua kaum dan masyarakat. Pendapat mereka dicari dan dihurai dengan panjang lebar. Tidak cukup dengan mengata, mereka mengundang orang politik mengulas, kononnya akulah ibu segala setan yang memporak-perandakan kehidupan orang kampung. Tidak puas hati dengan cerita biasa, akhbar-akhbar memaparkan pula cakap-cakap para cendekiawan dan saintis tempatan. Apakah ulasan mereka bernas?

Mereka tidak tahu langsung tentang diriku. Apatah lagi orang biasa.
Mereka bergaul-gaul dalam kotak kosong. Lalu tidak menjumpai objek konkrit. Untuk meyakinkan para pembaca, mereka mula menceritakan kisah dongeng dengan tongkat sakti. Para pembaca dibuatnya supaya percaya dengan ketiadaanku nanti, akhirnya masalah ketagihan kepada dadah pun tamat. Mereka tidak hirau langsung peranan yang kumainkan untuk dunia selama ini. Di manakah rasionalnya penghapusan diriku ini?

Memang benar aku ada mitraginin. Kesannya boleh mengkhayalkan manusia. Tapi jangan salahkan diriku. Alkaloid ini anugerah Tuhan padaku. Aku dilahirkan dengannya.

Begitu juga manusia. Kamu dilahirkan dengan otak. Kenapa tidak menggunakannya?

Apabila dalam kesusahan, manusia sering menuding jari ke arah lain. Cipta undang-undang itu dan undang-undang ini. Konon untuk menjaga masyarakat. Sebab itu agaknya manusia suka bergaduh sesama mereka. Tapi denganku, aku tak akan melawan. Bermusuh bukan caraku.

Kewujudanku di sini untuk menjaga isi bumi ini. Itu fitrahku. Apakah manusia tidak memahaminya? Cuba buka matamu luas-luas dan lihat segala tumbuhan di sekelilingmu wahai manusia. Dan jawablah kepada diri sendiri jika kamu semua yang benar.

Mereka telah buat keputusan untuk menebang diriku pada pagi hari Jumaat. Kawan-kawanku turut berasa sedih di atas nasibku yang malang ini. Mereka berkata, ini tidak adil.

Perkara ini mesti dibawa ke mahkamah keadilan antarabangsa di Hague, Belanda. Hak asasi tumbuhan dicerobohi oleh manusia kejam. Walau apapun, aku ucapkan terima kasih dan mohon maaf, seandainya aku ada melakukan kesalahan kepada mereka. Aku juga tidak lupa memberi mereka kata perangsang untuk terus hidup. Kawanku Jati, berjanji akan menunaikan hasratku itu. Lantas dia menghadiahkan aku sebuah sajak:

Jati

Jati namaku
berdiri megah
mencecah awan
zaman berzaman.

Melintuk dahanku
digesel angin
lemah bukan
sekadar tolak ansur.

Mencengkam akarku
kuat dan kukuh
berdentum guruh
lepas tiada.

Di sini mukimku
beranak pinak
langit kujunjung
bumi kupijak.

Aku bangga mempunyai kawan sepertinya. Pada malam terakhirku, kurasakan bulan sungguh indah. Kurenung dia lama-lama buat kali penghabisan. Kudapat rasakan ada sepasang mata yang melihat diriku ini. Selepas itu, ia tersenyum lebar. Aku gembira dan bersedia untuk menghadapi hari esok. Sesungguhnya ajal maut di tangan Tuhan. Sementelah tanpa diduga, banjir besar melanda kampung itu. Semua musnah menjadi padang jarak padang tekukur. Itulah kisahku sebatang pohon bernama Biak.

BIODATA

Sabri Hashim yang dilahirkan di Kuala Lumpur dan dibesarkan di Alor Star mula berkarya pada awal 1980-an terbabit dalam genre sajak, cerpen, novel dan lukisan. Karya lulusan Sarjana Sains dalam bidang Farmakologi dari Universiti Sains Malaysia (USM) ini mendapat tempat dalam media massa arus perdana.

Berita Minggu

Sabtu, 15 Julai 2000

Memahami Jasmani ( Agama )


Jasmani diciptakan Allahur Rabbul ‘Alamin untuk menjadi busana ruh didalam proses mengarungi kehidupan alam nyata ini. Karena itu kejadiannya-pun berkaitan erat dengan piranti kehidupan dunia. Sedangkan segala komponen yang mana dinamakan zat an-organik disediakan untuk menjadi sarana pemeliharaan keberlangsungan hidup jasmani. Dalam proses badan kasar manusia Allahul Khaaliqul Barri telah menerangkan melalui beberapa firman-Nya :

Walaqad khalaqnal insaana min sulaatin min thiinin. Tsumma ja’alnaahu nuthfatan fii qaraarin makiinin. Tsumma khalqnaan nuthfata ‘alaqatan fakhalqnal ‘alaqata mudhghatan fakhalaqnal mudhgata ‘izhaaman fakasaunal ‘izhaama lahmaan. Tsumma an-sya’naahu khalqaan aakhara fatabarakallahu ahsanul khaliqiina.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (yang berasal dari) tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu (menjadi) nutfah (sperma, air mani yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nutfah itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan dari segumpal daging itu kami jadikan tulang–belulang, lalu tulang–belulang itu kami bungkus dengan daging, kemudian dia (keseluruhannya) itu kami jadikan makhluk yang lain; (berbentuk) maka Maha Suci Allah Pencipta Yang Paling Baik.” QS. 23: 12,13,14

Kalimat “Min Sulaalatin Min Thiin” berarti “Saripati yang berasal dari tanah”, yaitu zat–zat asli yang terdapat di bumi. Atau dengan kata lain “Zat an-organik”. Zat tersebut “Ada” setelah melewati persenyawaan dengan zat–zat lain. Misalnya, zat pembakar (oksigenium) yang di dalam bahasa Al Qur’aan disebut dengan istilah “Shal-shal” (baca : sol-sol), zat arang (karbonium) yang di dalam bahasa Al Qur’aan disebut dengan istilah “Fakh–khar” (baca:Fah-hor), zat lemas (nitrogenium) yang di dalam bahasa Al Qur’aan disebut dengan istilah “Hamaain”, zat air (hidrogenium) yang di dalam bahasa Al Qur’aan disebut dengan istilah “thiin”, zat besi (antara lain : ferrum, yodium, kalium, silikum, kalsium dan mangaan) yang di dalam bahasa Al Qur’aan disebut “Laazib” dan zat protein (bentuk zat-zat an-organik) yang di dalam bahasa Al-Qur’aan disebut dengan istilah “turab”. Adapun penjelasan secara tartil (terinci) tentang zat–zat tersebut terdapat dalam ayat Al Qur’aan sebagai berikut:

Oksigenium alias zat pembakar diistilahkan dalam bahasa wahyu “Shal– shal”. Begitu-pun karbonium atau zat arang dinyatakan sebagai “Fakhkhaar”. Untuk lebih jelasnya perhatikan firman Allah berikut:

Khalaqal insaana min shal-shaalin kalfakhkhaari.
“Dia (Allah) menciptakan manusia dari tanah kering (oksigenium) seperti tembikar (karbonium)”. QS. 55 Ar Rahman : Ayat 14.

Nitrogenium alias zat lemas yang disebut dalam bahasa Al Qur’aan dengan kalimat “Hamaa-in” terdapat dalam firman-Nya :

… Inni khaaliqun basyaran min shalshaalin min hamaain masnuunin.
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat yang kering; dari lumpur hitam (nitrogenium) yang diberi bentuk”. QS. 15 Al – Hijr : Ayat 28.

Hidrogenium alias zat air, di dalam firman-Nya menerangkan dengan istilah “Thiin” sebagaimana penjelasan Al Qur’aanul Karim :

wabada-a khalqal insaana min thiinin.

“… dan Ia telah memulai penciptaan manusia dari tanah (zat air / hidrogenium)”.
QS 32 As Sajdah : Ayat 7.

Zat besi (antara lain : ferrum, yodium, kalium, silikum, kalsium dan mangaan) di dalam bahasa wahyu disebut dengan istilah “Laazib”, sebagaimana firman-Nya:

…Inna khalaqnaahum min thiinil laazibin.
“… Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat (zat besi)”.
QS. 37 Ash Shaffaat : Ayat 11.

Protein atau zat–zat an-organik yang diistilahkan dalam firman-Nya dengan kalimat “Turab” pun tertera dibawah ini :


… Khalaqahu min turaabin …
“Ia (Allah) menciptakannya (Adam / manusia dari tanah (protein)” QS. 3 Ali ‘Imran : Ayat 59.

Shadaqallahul ‘Azhim. Firman-Nya di atas telah menerangkan secara jelas dan nyata mengenai proses penciptaan jasmani (badan kasar manusia). Uraian berikut diharapkan dapat memperjelas penjelasan diatas :

Turab adalah zat–zat asli yang terdapat di tanah, juga yang dinamai zat an-organik. Zat an-organik baru terjadi setelah melalui proses persenyawaan beberapa zat antara lain fakh-khar (yakni zat arang, karbonium), shal-shal (yaitu zat pembakar, oksigenium) dan hamaa-in (zat lemas, nitrogenium) serta thiin (zat air, hidrogenium).

Kemudian zat–zat tersebut bersenyawa dengan zat besi (ferrum, yodium, kalium, silikum, kalsium dan mangaan) yang disebut dalam Al-Qur’aan dengan Lazib (zat-zat an-organik).

Di dalam proses persenyawaan tersebut, lalu terbentuklah suatu zat yang dinamai “Protein”. Inilah yang disebut turab alias zat–zat an-organik. Salah satu di antara zat– zat an-organik yang terpandang penting ialah zat kalium yang banyak terdapat di dalam jaringan tubuh manusia teristimewa di dalam otot–otot. Zat kalium dipandang penting oleh karena mempunyai aktifitas dalam proses hayati yakni dalam pembentukan bahan halus. Berlangsungnya proteinisasi menjelmakan proses pergantian yang disebut “Substitusi”. Setelah sel–sel mengalami substitusi kemudian menggempurlah elektron– eketron sinar kosmis yang mewujudkan sebab pembentukan (formasi), dinamai juga sebab wujud atau “Kausa Formatis”. Adapun sinar kosmis ialah suatu sinar yang mempunyai kemampuan untuk merubah sifat–sifat zat yang berasal dari tanah. Dengan mudah sinar kosmis dapat mewujudkan pembentukan tubuh manusia (Adam) berupa badan kasar (jasmani), yang terdiri atas kepala, telinga, mata, kaki, tangan, hidung, mulut dan seterusnya. Hanya sampai disinilah ilmu pengetahuan eksak dapat menganalisa tentang proses pembentukan jasmani manusia. Sedangkan tentang ruhaninya tentu dibutuhkan ilmu pengetahuan yang serba ruhaniah dan sangat erat hubungannya dengan ilmu metafisika.

Sungguh sayang ! Penulis bukan ahlinya dalam ilmu eksak, sehingga tidak dapat menguraikan yang lebih tartil dan jelas sebagaimana pakar–pakar ilmu urai tubuh.

Setelah menyimak proses pembentukan badan kasar manusia dengan ilmu eksak yang diuraikan secara jelas oleh firman Allahul ‘Azhim lewat Al Qur’aanul Karim, maka dapatlah kita menyimpulkan bahwa jasmani manusia diciptakan Allahul Khaliq khusus untuk menjadi busana ruh selama tinggal di bumi.

Mengapa khusus harus disebut Busana Ruh yang tinggal dibumi ?
Sebab kalau kita simak dan renungkan proses pembentukan dan pemeliharaan badan kasar alias jasmani manusia, sebagaimana yang telah diuraikan di atas, jelaslah berkaitan erat dengan zat–zat an-organik yang ada pada tanah (bumi). Atau dengan kata lain jasmani manusia diciptakan dan diberlasungkan pemeliharaannya oleh Allah Pemelihara melalui (dan dengan) empat anasir yaitu api, angin, air dan tanah. Empat anasir tersebut sangat dibutuhkan oleh setiap manusia bahkan segala makhluk hidup di planet bumi yang senantiasa berputar kehidupannya.

Adapun ruh bukanlah salah satu dari ke empat anasir tersebut. Ruh justru sesuatu yang lebih tinggi martabatnya dari ke empat anasir itu. Sebab ruh itulah yang bertindak sebagai penggerak atau generator jasmani manusia. Ingatlah bahwa sebenarnya jasmani itu mati! Karena jasmani berasal dari api, angin (udara), air dan tanah. Atau dalam istilah firman-Nya “Sulaalah Min Thiin”.

Ruh meliputi jasamani; diawali dengan penyempurnaan pembentukan badan kasar dalam proses rahim sebagaimana firman-Nya:

Tsumma sawwaahu wanafakha fiihi min ruuhihi waja’ala lakumus sam’a wal abshaara wal af-idata, qaliilan maatasykuruuna.

“Kemudian Dia menyempurnakan (kejadiannya) dan meniupkan kedalam-nya ruh-Nya dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati, (namum kebanyakan di antara) kamu sedikit sekali yang bersyukur.” QS. 32 As Sajdah : Ayat 9

Isnin, 3 Julai 2000

Muzium hidup Orang Asli (Delima Merkah)



MELANCONG ke Perak tidak sempurna jika tidak me neroka keistimewaan Hutan Royal Belum terutama meng hayati kehidupan rutin masyarakat Orang Asli di situ.

Perkampungan Orang Asli yang jarang didedahkan media ialah Sungai Tiang dan Sungai Kejar, mengambil masa kira-kira 40 dan 45 minit perjalanan dengan bot laju dari Jeti Awam Banding.

Terletak di tengah Hutan Royal Belum, kedua-dua kampung itu boleh dianggap muzium hidup suku kaum Jahai.

Masyarakat ini bergantung kepada sumber alam atau hasilan hutan seperti mencari rotan, kayu gaharu, madu lebah, akar kayu, bercucuk tanam dan menangkap ikan sejak mereka mendiami perkampungan itu 24 tahun lalu.

Kebanjiran pelancong membawa limpahan ekonomi kepada suku Jahai.

Kedamaian Tasik Banding yang dikelilingi hutan hujan seluas 113,000 hektar memahat azam suku kaum minoriti ini terus mendiami pinggir tasik buatan manusia yang terbentuk selepas pembinaan Empangan Temenggor pada 1978 ini.

Royal Belum yang diwartakan sebagai Taman Negeri Perak sejak lima tahun lalu terletak bersempadan dengan Thailand di sebelah utara dan Jalan Raya Timur- Barat (JRTB) di selatannya.

Sekali berkunjung ke Hutan Royal Belum khususnya ke Perkampungan Orang Asli Sungai Kejar dan Sungai Tiang pasti akan menggamit kenangan untuk terus kembali ke hutan ini.

Harian Metro

Ahad, 2 Julai 2000

Formasi unik batu kapur (Ceritera)

Teks dan gambar Ramli Ibrahim
rencana@hmetro.com.my

MUNGKIN ramai tidak mengetahui ada sejarah di sebalik nama Gua Musang. Mengikut cerita lama, ia mempunyai kaitan dengan gua batu kapur yang sudah lama menarik kunjungan ramai pelancong.

MUNGKIN ramai tidak mengetahui ada sejarah di sebalik nama Gua Musang. Mengikut cerita lama, ia mempunyai kaitan dengan gua batu kapur yang sudah lama menarik kunjungan ramai pelancong.

Dengan ketinggian lebih 1,200 meter (m) dari aras laut, gua batu kapur itu yang terletak di hadapan Stesen Kereta Api Gua Musang memiliki tarikan semula jadinya tersendiri.

Kunjungan ke bandar ini tidak dianggap lengkap jika tidak meneroka gua batu kapur itu.

Penjelajahan meneroka Gua Musang pasti lebih meriah jika datang bersama rakan dan ahli keluarga.

Mereka yang pernah berpengalaman mendaki pasti mengakui pengalaman getir untuk menempuh perjalanan untuk sampai ke muka gua.

Justeru, aktiviti ini lebih sesuai untuk mereka yang berusia antara 10 dan 50 tahun.

Kecerdasan menjadi rangsangan utama bagi menjayakan pendakian berikutan laluan sempit dari kaki bukit menuju ke pintu gua.

Ekspedisi meneroka gua batu kapur lebih meriah apabila tiba musim cuti sekolah. Kumpulan pelajar sekolah, penuntut institusi pengajian tinggi awam (IPTA) dan pelancong dari luar Kelantan bertumpu ke daerah ini untuk tujuan pendakian.

Pelbagai formasi batu kapur boleh dilihat dalam gua termasuk telaga emas, buah belimbing batu, lubang ular, gendang puteri, bilik persandingan dan kepala gajah.

Bentuk unik dan adakalanya agak aneh ini menjadi tumpuan lensa kamera pengunjung yang pertama kali menjejakkan kaki ke sini.

Menariknya, tiga lubang gua utama terletak di kawasan lebih rendah membolehkan pengunjung melihat pemandangan sebahagian besar bandar Gua Musang.

Dari sini, pengunjung terpaksa meredah perjalanan kira-kira 45 minit untuk sampai ke puncak.

Mengikut cerita penduduk tempatan, pendakian Gua Musang sudah lama dilakukan sejak awal 1930-an lagi.

Rentetan dari itu, lahir kisah pelik dan berbaur mistik berdasarkan pengalaman pendaki yang pernah berkunjung ke sini.

Justeru, seperti tempat lain, pengunjung dinasihatkan tidak membuang air kecil atau besar sebarangan kerana takutkan sebarang kejadian buruk berlaku apabila mereka pulang ke tempat masing-masing.

Kebelakangan ini, cerita mistik ini tidak lagi dihiraukan pengunjung yang kurang mempercayai pantang larang apabila memasuki hutan menyebabkan ada yang ditimpa musibah termasuk sesat ketika mencari jalan pulang menuruni bukit.

Sebagai langkah berjaga-jaga, mereka perlu membawa jurupandu berpengalaman bagi mengelakkan mereka tersesat. Ini memandangkan keadaan gua yang gelap boleh mengelirukan mereka.

Apabila melepasi kawasan gelap ini, pendaki boleh meneruskan perjalanan melalui denai di belakang gua untuk sampai ke puncak.

Sepanjang perjalanan ini, pengunjung berpeluang melihat pelbagai spesies flora yang jarang ditemui termasuk pokok hutan berusia ratusan tahun.

Lampu picit menjadi barangan terpenting apabila menyertai aktiviti sebegini terutama ketika berada dalam gua yang gelap. Selain itu, ia bagi mengelak pengunjung dari terserempak dengan hidupan liar seperti ular yang banyak mendiami kawasan sekitar gua ini.

Bagaimanapun, ekspedisi ini bukan suatu perkara yang sukar untuk pendaki berpengalaman.

INFO


Keluasan Gua Musang ialah 8,177 kilometer persegi dengan penduduk seramai 90,187 orang.

Gua Musang adalah bandar dalam jajahan Kelantan dan daerah paling besar di negeri Cik Siti Wan Kembang.

Gua Musang bermaksud ‘Gua kepada Musang’. Di timur bandar itu terletak Bukit Gua Musang setinggi 105 meter.

Gua Musang di utara adalah pintu masuk ke Taman Negara di Kuala Koh. Hutan hujan tropika yang belum diteroka sepenuhnya itu adalah antara yang tertua di dunia.

Gua Musang dikelilingi gua dan bukit batu kapur yang popular di kalangan pelancong terutama pendaki.

Kuil Buddha di Pulai dikatakan berusia 400 tahun.

Bagi peminat rakit, Sungai Nenggiri adalah destinasi paling popular bagi pengemar sukan air. Setiap tahun diadakan Cabaran Nenggiri.

Kesan sejarah boleh ditemui di sekitar gua termasuk Gua Cha, Chawan dan Jaya yang berhampiran dengan sungai.

Gua Musang juga menyediakan peluang bagi peminat burung (bird watching) dan aktiviti berlayar menyusuri sungai bermula dari Kuala Krai hingga bandar Dabong.

Di Kedasar Inn di bandar lama Gua Musang, anda boleh membuat lawatan ke lombong emas, taman rusa dan taman botani.

Kemudahan perkhemahan disediakan termasuk program untuk remaja.

Bagi penginapan anda boleh memilih konsep homestay di Kampung Renok Baru yang menawarkan percutian ala kampung yang menjanjikan pengalaman yang tidak mudah dilupakan.

Cuba menginap di homestay ketika musim buah-buahan, anda akan menikmati pelbagai buah-buahan termasuk rambutan, durian, langsat dan manggis.

Untuk penginapan ala homestay, anda boleh menghubungi pejabat Kesedar di talian 09-9121788 atau e-mel: kesedar@tm.net.my

BAGAIMANA KE SANA

Jika anda dari Kuala Lumpur, perkhidmatan bas dari stesen Hentian Putra Kuala Lumpur (bersebelahan Pusat Dagangan Dunia Putra) menyediakan perkhidmatan setiap hari di antara jam 9 pagi hingga 9.30 malam.

Durasi perjalanan dari Kuala Lumpur ke Gua Musang mengambil masa empat jam 30 minit dan tiket boleh dibeli dengan harga RNM26.10.

Sabtu, 1 Julai 2000

Urutan Bali Kamphora Spa (Ceritera)

Oleh Mary Victoria Dass
maryvictoria@hmetro.com.my

TIDAK perlu ke destinasi lain seperti Bali kerana di Kamphora Spa, di Jalan Padi Emas 2, Bandar Baru Uda, Johor Bahru, segala keinginan dan kepuasan dicari atau dihajati akan tercapai.

Mereka yang pernah menikmati pengalaman rawatan di Kamphora Spa tentu tidak dapat melupakan keunikannya kerana ia menggabungkan beberapa amalan tradisi lama bagi mengembalikan kecantikan dalam dan luaran dari hujung rambut sehingga ke hujung kaki terpelihara.

Sebaik melangkah masuk ke Kamphora Spa, pengunjung akan menikmati suasana tenang dengan hiasan lilin aromaterapi selain deruan air terjun mini dan perabot ukiran ala Bali yang unik.

Yang pasti, mereka yang berkunjung ke situ mampu mendapatkan rawatan kesejahteraan dan kecantikan meliputi keharmonian jasmani, rohani dan minda yang ditawarkan selain membangkitkan kesegaran dan memupuk jiwa yang tenang.

Seni urutan Bali antara tarikan utama di Kamphora Spa yang beroperasi kira-kira lima bulan lalu.

Pengarah Urusan Kamphora Spa, Fardziateefara Hamzah, berkata perkhidmatan spa lengkap menarik minat pelanggan tempatan selain pelancong Singapura.

Beliau berkata, kebanyakan pengunjung menggemari urutan Bali untuk merehatkan minda, malah ada antaranya menyifatkan urutan itu baik untuk kesihatan kerana membantu peredaran darah selain mengembalikan keremajaan.

"Kamphora turut menyediakan perkhidmatan lengkap penjagaan badan, kaki dan rambut termasuk urutan badan secara tradisional cara Melayu, urutan Bali serta mandi bunga dan susu bagi membuang toksid dalam badan.

"Kamphora memiliki tiga pakar urut atau terapi terlatih dan empat bilik rawatan badan yang selesa bagi pengunjung wanita," katanya.

Farah berkata, Kamphora Spa mendapat sambutan menggalakkan di kalangan pengunjung kerana menawarkan perkhidmatan pakej urutan badan, body scrub, sauna dan rawatan muka serendah RM150 yang memakan masa rawatan selama tiga jam.

Manakala pakej kedua pula dengan kadar bayaran RM98 selama lebih dua jam iaitu urutan badan, sauna dan body scrub.

"Kami yang beroperasi mulai jam 10 pagi sehingga 8 malam turut menyediakan mandian khas untuk kesihatan rambut bagi mengatasi masalah rambut gugur dan kelemumur.

"Rawatan refleksologi pula didahului dengan rendaman kaki di air garam gunung yang mampu mengurangkan toksid dalam badan,” katanya.

Harian Metro

Jumaat, 16 Jun 2000

Roh ( Agama )


Allah Yang Maha Suci dengan sengaja menciptakan ruh yang menjadi sumber kehidupan seluruh makhluk-Nya dari dunia hingga akhirat. Dan pada hakikatnya seluruh ciptaan-Nya tersebut “Hidup” karena tidaklah Ia menciptakan suatu makhluk melainkan padanya ada ruh yang meliputinya. Termasuk langit dan bumi beserta isi antara keduanya pun punya ruh. Allah Yang Hidup adalah Dzat pemberi hidup dan kehidupan pada seluruh makhluk bangsa ruhaniah yang diwujudkan pada alam semesta. Tidak ada yang hidup melainkan dengan sumber kehidupan, yaitu ruh! Adapun ruh sendiri berasal daripada-Nya, dan menjadi nur (hidup) makhluk. Tetapi bagaimanakah sesungguhnya sifat ruh itu?

Ruh adalah sesuatu yang lembut dan halus, meliputi seluruh keadaan makhluk dan tidaklah ia bertempat pada suatu tempat yang sifatnya lokal dan mikro. Apabila ruh meliputi pada sesuatu yang mati, maka hiduplah sesuatu itu. Ruh tidak dapat diukur besar kecilnya dengan suatu wujud jasmaniah. Ruh tidak berjenis sebagaimana jenis jasmani manusia dan makhluk lainnya. Dan apabila ruh mensifati serta meliputi hati manusia, maka memancarlah “himmah” dan kestabilan serta kekuasaan dalam gerak langkah hidupnya. Dan bilamana menyelusup menyelimuti nafsu (jiwa) serta mendominasinya, tercerminlah kemauan dan semangat hidup dalam menata kehidupannya. Iika ruh menguasai akal pikiran maka akal pikiran akan menjurus kesempurnaan di dalam pandangan dan dapat menentukan suatu sikap atas dasar pertimbangan yang matang bagi perjalanan hidupnya. Begitulah adanya, jika ruh singgah di telinga maka mendengarlah ia, manakala ruh berkelebat melalui mata maka memandanglah ia, dan ketika ruh bertamasya pada mulut maka berhamburanlah kata-kata yang punya mulut, pun bila ruh menjalar pada tangan maka bergeraklah ia meraba dan mengusap, juga apabila ruh mengalir pada kaki maka dapatlah melangkah tegap ataupun gontai. Begitu pula bila ruh meliputi dan menguasai sel–sel yang bergerak ke seluruh peredaran darah maka tampaklah gerak hidup jasmani.

Ruh adalah golongan makhluk Allahur Rabbul ‘ alamin yang dikekalkan kehidupannya. Adapun hidup serta kehidupan makhluk yang diliputi ruh selalu tumbuh dan berkembang. Allah Yang Maha Kaya menamai kehidupan langit dan bumi beserta isi keduanya dengan isyarat “Nur” (cahaya atau kehidupan), sebagaimana firman-Nya :


Allahu nuurus samaawaati wal ardhi …
“Allah (pemberi) cahaya (hidup) langit dan bumi ….” QS. 24 An Nuur : Ayat 35.

Innallah khalaqa ruuhan nabiyyi shalallahu ‘alaihi wasalam min dzaatihi wakhuliqal ‘aalamu biasrihi min nuuri muhammadin shalallahu ‘ alaihi wasallam. (Al – HADIS )
“Sesungguhnya Allah menciptakan ruh Nabi saw, daripada Dzat-Nya lalu diciptakan alam sekaliannya dengan rahasia-Nya dari pada Nur Muhammad saw.”

Ruh, termasuk makhluk ciptaan-Nya yang gaib dan hidup meliputi dimensi alam jasmaniah. Dan ruh memiliki sifat yang berlawanan dengan jasmani. Ruh adalah Nurullah! Tapi ruh sebagai Nurullah bukan berarti sebagaimana cahaya yang memancar dari matahari atau lampu. Nur dalam pengertian ayat dan Hadis tersebut di atas bermakna Hidup! Yakni suatu makhluk yang hidup dihidupkan Allah Yang Maha Hidup dengan ruh ciptaan-Nya! Allahul Hayyi jualah yang menghidupkannya dengan memberikan ruh ciptaan-Nya.

Kalimat “Nur” di dalam firman Allahul ‘Azhim sangat banyak, bahkan lebih dari tiga puluh (30) ayat yang menyebut tentang “Nur” sekaligus meliputi atau menjadi simbol berbagai hal seperti Muhammad Rasul Allah saw., Al Qur’aan, Agama Islam, Malaikat, Ilmu serta Hidayah (petunjuk). Istilah “Hidup” yang meliputi kehidupan seluruh makhluk juga dirumuskan dalam bahasa wahyu dengan istilah “Nur”. Apabila ruh diibaratkan nur yang terang benderang maka jasmani diibaratkan suatu tempat yang gelap gulita semisal ruangan. Padahal tidaklah akan tampak terang suatu cahaya bila ia tidak bertempat pada yang gelap gulita. Begitu pula keadaan gelap pekatnya jasmani dikatakan gelap gulita bila tidak ada sesuatu yang meneranginya. Demikianlah pengertian “Ruh” sebagai “Nur” dalam istilah wahyu-Nya.