Translate

Asal kejadian jurnal@blog ini...

Asal kejadian isipati jurnal@blog ini adalah dari http://idanradzi.easyjournal.com tetapi nak jadi ceritera server sana asyik terhalang untuk diakses. Kini 2012 telah padam server Easyjournal ini.

Aku hanya sempat memindahkan sedikit sahaja data ke situs cermin ini. Alahai sedih amat.

Situs ini lebih kepada keterbukaan dalam soal Politik, usah dilabelkan situs haluan kiri atau pro parti mana pun. Pemilik asalnya adalah seorang Penyair nan lebih suka mendalami jiwa rakyat marhaen.

Bantu

Memaparkan catatan dengan label Agama. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Agama. Papar semua catatan

Khamis, 6 November 2014

Ziarah ke Jabal Thur,Padang Arafah,Jabal Rahmah dan Jaranah.

Hari Yang di Lalui bila berada di Mekah, dan bila berada di Masjidil Haram, hati penuh kesayuan, penuh kesyukuran kepada mu ya allah …bibir tidak putus2 mengucapkan Subhaanallaah,Alhamdulillah dan allahuakbar serta أستغفر الله‎ 
setiap hari berulang alik dari hotel ke masjid, hatiku berbunga2 , dan hati juga sering berdoa , semoga hari2 yg dilalui akan dpt aku ulanginya kembali satu hari nanti..dalam perjalanan ke MasjidilHaram dari Hotel atau semasa perjalanan pulang dari Masjidil Haram ke Hotel..tak terasa penat, atau panas pun..sebab hati selalu berbunga2 + happy dapat sampai ke sini menjadi tetamu allah..mata asik melilau2 melihat pemandangan kawasan sekitar.

 Ini jalan aku ke Masjidil Haram setiap hari
alhamdulillah,syukur ,jarak hotel ngn masjid agak dekat
Kadang dlm perjalanan ke Masjid untuk solat zohor,cuaca adalah panas melampau

Sampai sepet2 mata menahan kepanasan..kdg aku terlupa bawa spek itam,.lagi kalau time nak buat umrah..lagi ler tak bawa spek hitam.

 tgklah,time ni nak g solat zohor,panas melampau
sampai kty tak leh buka mata.

 kebanyakan masa di Mekah, sama je rutin harianku..bangun seawal 2am ke masjid untuk solat subuh,balik lepas solat ,sarapan, naik bilik ,mencuci pakaian,

Jam 11am ke masjid utk solat zohor, dan iktikaf di masjid sampai Asar ,
kalau buat umrah, kitaorang makan dulu sebelum ke Masjid ,takut tak larat nak buat umrah, lagi sebab risau keadaan mak dan maklong.
Dan semasa di sana masa seakan terasa lambat, sampai kadang aku rasa mcm tak percaya lah baru hari isnin ke..baru hari selasa ke..rasa mcm masa itu terhenti , allah nak aku nikmati masa yg ada di sini sepuas-puasnya.

Alhamdulillah semua solat fardu dpt aku tunaikan di masjid. Syukuran..

Alhamdulillah sangat, disebab hotel aku dekat jer ngn Masjid, jadiknya tidak timbul kesulitan bagi ku untuk ke masjid, tidak terasa jauh , walupun kadang aku sorg2 je jalan kaki ke masjid sambil menikmati pemandangan Masjidil Haram. Itulah rutin harian aku, kalau aku beritikaf di Masjidil Haram, baliknya pasti aku akan beli aiskerim ngn jus buahnya.Harga untuk Eskerem Mixed = 3Sar ,dan Jus Buah = 5Sar.




Rasanya lebih kurang Tutti Frutti..tapi dengan harga yg murah, Cuma tade lah letak toping bagai atas aiskerim tu..tapi makan begitu sahaja ,dah sedap dan kenyang
sampai aku rasa aku kurang mkn nasi kt sana, sebab kekenyangan makan eskerem.
Sampai kekadang ,kalau aku balik ke Hotel berseorangan di dalam lif ,ada jemaah lain masuk, pasti menegur, makan eskerem ? sedap ke..sbb kebanyakan takut nak makan, takut deman + batuk . Hari2 makan aiskerim ,minum jus buah,padahal pihak TA ada je menyediakan makanan sehari 3 kali,Boleh tahan lauk pauknya ,sedap-sedap belaka..Sebenarnya Soal Makan di Mekah, tidak ada masalah pun , banyak je kiosk jual makanan selain pihak hotel pun turut menyediakan makan .


Pada hari Selasa 19 March 2013, kami ada ziarah luar

Hari itu kami ke Jabal Thur,Jabal Rahmah, Padang Arafah dan Ke Jaranah seterusnya miqat utk umrah pada sesiapa yg nak buat umrah.

Memula kami di bawa ke Jabal Thur, tapi kami hanya berhenti untuk mengabadikan sekeping 2 foto je di sini.

Sejarah mengenai Jabal Thur ,sumber dari>> Sini
Jabal Tsur, letaknya sekitar 6 kilometer di sebelah selatan Masjidil Haram, di sana terdapat Gua Tsur, tingginya sekitar 1,25 meter dengan panjang maupun lebarnya kurang lebih 3,5 meter x 3,5 meter. Gua tersebut memiliki dua pintu, yaitu di sebelah barat dan satu lagi di sebelah timur. Di pintu sebelah baratlah  yang digunakan Nabi untuk masuk yang tingginya sekitar 1 meter, sedangkan pintu sebelah timur walaupun lebih luas, sengaja dibuat untuk memudahkan orang keluar masuk gua. Untuk mendaki sampai ke puncak Jabal Tsur ini diperlukan waktu sekitar satu setengah jam.

Sejarahnya, sebelum Nabi Muhammad Saw dan Abu Bakar r.a berangkat untuk hijrah ke Madianah, pada malam hari itu Beliau tidur di rumah pamannya  (Abu Thalib) dengan di temani saudara sepupunya Ali bin Abi Thalib. Rumah Abu Thalib sebenarnya telah dikepung oleh orang-orang kafir Makkah. Mereka berencana akan menangkap bahkan ingin membunuh Nabi Muhammad Saw. Tetapi atas pertolongan Allah SWT, para pengepung itu tertidur kemudian Nabi Muhammad Saw keluar dari rumah tersebut menuju suatu tempat di mana Abu Bakar r.a telah menunggunya.


Setelah bertemu dengan Abu Bakar r.a, Nabi Muhammad Saw berjalan ke arah berlawanan menuju madinah, yaitu ke Jabal Tsur yang letaknya berada di selatan Makkah (arah negara Yaman), sedangkan Madinah berada di Utara Makkah, untuk menghindari dari kejaran orang kafir. Pada malam itu Allah Swt menurunkan ayat
Yang artinya : “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” ( Q.S Al-anfal ayat 30 )

Ketika Nabi Muhammad SAW berdua dengan Abu Bakar ra telah berada di dalam Gua Tsur, Allah SWT memberi pertolongan dengan mengutus para malaikat yang membuat sarang laba-laba yang menutupi mulut gua tersebut dan meletakan sarang burung merpati yang sedang mengerami telurnya, sehingga orang kafir (Makkah) yang sudah tiba di mulut gua yakin bahwa tidak mungkin Nabi Muhammad SAW bersembunyi di situ. Akhirnya merekapun pulang dengan tangan hampa  dan Nabipun selamat.

Firman Allah SWT:
Artinya : Jikalau kalian tidak mau menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah memberi pertolongan kepadanya (yaitu) ketika orang kafir (Makkah) mengusir dia, sedangkan dia adalah satu di antara kedua di dalam gua (Tsur)”. Dia berkata pada temannya (Abu Bakar), ”janganlah engkau bersusah hati karena tuhan beserta kita.” Maka, Dia menurunkan ketenangan ke atasnya  (Muhammad) dan  membantunya dengan tentara yang kalian tidak bisa melihatnya, dia menjadikan kalimat/seruan orang-orang kafir menjadi rendah, dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Mulia serta Maha Menghukum. (Al-Qur’an Surat  Attaubah/9 Ayat 40).
Selain dari peristiwa bersejarah yang pernah berlaku di sini, tahukah semua pada suatu hari nanti akan berlaku satu peristiwa dahsyat di Bukit Thur dan peristiwa ini telah disebut di dalam Al-Quran?

Selepas berlakunya tanda kiamat yang pertama, muncul Imam Mahadi dan Nabi Isa AS akan dibawa turun dari syurga untuk memerangi Dajjal. Setelah berakhirnya peperangan tersebut muncul pula Yakjuj Makjuj tapi kali ini Nabi Isa AS tak dapat melawannya kerana Yakjuj Makjuj ini tersangatlah dahsyat. Baginda memohon pertolongan kepada Allah SWT untuk diselamatkan dari kekacauan yang ditimbulkan dan pada waktu ini Allah SWT akan memerintahkan Nabi Isa AS membawa seluruh umat Islam untuk berlindung di Bukit Thur. Kemudian Allah SWT menghantar sejenis binatang seakan-akan ulat yang akan memusnahkan Yakjuj Makjuj sehingga hancur luluh kesemuanya. 
Setelah kesemuanya hancur kemudian Allah SWT akan menghantar sejenis burung sebesar unta yang akan membawa bangkai Yakjuj Makjuj ini ke tempat lain. Dan setelah itu Allah SWT akan menurunkan hujan yang lebat untuk membersihkan keseluruhan bumi sehingga berkilau seperti pasir pantai yang bersinar. Selepas peristiwa tersebut maka bumi pun kembali subur dan Nabi Isa AS akan memerintah dunia selama 40 tahun. Dalam tempoh itu baginda akan menunaikan Umrah dan Haji sebelum wafat. Setelah kewafatan baginda dan meninggalnya Imam Mahadi (beberapa tahun sebelum kewafatan Nabi Isa AS), maka akan berlaku satu peristiwa di mana Kaabah akan diruntuhkan oleh seorang lelaki dari keturunan Habsyi. Kemudian akan berlaku tanda-tanda kiamat yang lain sehinggalah matahari terbit dari Barat. Akhir sekali akan turunnya malaikat Israfil yang akan meniup sangkakala sebanyak 3 kali untuk mengejutkan seluruh umat manusia dan pada waktu ini dunia akan bergoncang, kemudian untuk mematikan semua benda yang bernyawa dan akhir sekali membangunkan semula seluruh umat manusia bagi menghadapi hari pembalasan. 

Masa di Jabal Rahmah, mutawif member penerangan sejarah mengenai Jabal Rahmah.

Bukit berbatu di Padang arafah, yang terletak sekitar 25 km sebelah tenggara kota Mekkah. Dipuncak bukit tersebut terdapat ‘tugu putih’ yang dibangun untuk mengenang peristiwa yang sangat mengharukan pertemuan antara Nabi Adam AS dan Siti Hawa yang dipisahkan oleh Allah SWT selama 200 tahun, ditempat ini pula Rasulullah menyampaikan wahyu yang terakhir turun yaitu Surat Al Maidah Ayat 3




Mutawif banyak kali pesan kat group kitaorang seramai 23 orang ni, jangan terlalu sangat meminta-minta ,Atau berdoa kat Jabal Rahmah,sampaikan ada yg solat kat atas tu,ada yang siap tulis nama kat atas tu, menangis –meraung dekat atas Jabal Rahmah,sampai solat pun mengadap batu putih,dah tak ngadap arah kiblat.

Apapun kita berdoa pada allah yang satu,kita minta padanya dan solat mengadap kiblat.

Boleh berdoa, tapi jangan sampai jadi khurafat dan tahyul.


Aku fikir banyak gak betul apa yg mutawif cakap, jadi bila sampai di Jabal Rahmah, malas aku nak naik ke atas tuh,Lagipun kitaorang pun tak berhenti lama,


Kalau tahun-tahun lepas ada unta yang dihiasi bunga-bunga di bawah Jabal Rahmah..

Tapi untuk tahun ini ,aku ada baca kat mana dah tak ingat, memang takde dah unta-unta nie.

Tapi diganti dengan beberapa ekor lembu.


Lepas ke Jabal Rahmah, bus membawa kami round-round sekitar Padang Arafah

Padang Arafah yang jaraknya kira-kira 18km dari kota Mekah,pada jemaah yang mengerjakan Haji mereka dikehendaki berkumpul di sini sekurang-kurangnya sebelum atau di awal waktu zohor pada 9 Zulhijjah sehingga terbitnya fajar 10 Zulhijjah. Wukuf diwajibkan ke atas jemaah Haji kerana ia adalah detik kemuncak dan merupakan syarat utama sah Haji.


 padang arafah

Tapi kami tidak berhenti pun di Padang Arafah, hanya melihat sekitarnya dari tingkap bas yang membawa kami ronda-ronda di Padang Arafah, bas juga melalui penempatan jemaah haji di Mina, di sini aku dapat melihat banyak khemah yg siap didirikan..aku rasa jumlahnya mungkin mencapai beribu-ribu khemah.Tapi masa kami dibawa melawat,keadaan disini lengang,tapi tidak semasa musim haji, mungkin berjuta2 umat manusia ada di sini.





Dari Padang Arafah kami Ke Jaranah untuk bermiqat dan niat umrah.


pic credit to google..x sempat nak snap gambar

Masjid Ja'ranah terdapat pada sebuah kampung yang jaraknya kira-kira 24 km dari Masjidil Haram, Makkah al- Mukarramah. Rasulullah s.a.w pernah bermiqat di sini untuk mengerjakan umrah setelah pulang dari peperangan Hunain. Ji’ronah merupakan miqat paling tinggi derajatnya dibanding miqat yang lain. Ji’ronah adalah nama seorang wanita yang mengabdikan dirinya untuk membersihkan dan menjaga mesjid tersebut, Ia seorang wanita Quraisy dari Bani Tim. Masjid ini merupakan salah satu tempat miqat untuk berniat mengerjakan ibadah umrah. Setelah mengambil miqat di tempat ini, diharuskan memakai pakaian ihram dan berniat ihram.
 Tapi macam biasa orang yang sangat ramai, lebih-lebih lagi bahagian perempuan, memang akan sentiasa sibuk, jadik kita diminta banyak-banyakkan bersabar dan membiasakan diri dengan suasana begini semasa di sana,semua orang pun berlumba-lumba untuk membuat amal ibadat. أستغفر الله


Sebab itu kalau boleh, kita ambil wudhu awal-awal dari hotel, tapi kalau dah nak terbatal wudhu macamana pulakkan ..terpaksa jugalah ambil wudhu lagi, jadi didiklah hati supaya bersabar dan sentiasa berzikir, supaya kita tidak menjadi baran atau mengeluarkan perkataan yg tidak diingini bila menghadapi keadaan yang bersesak-sesak.

Bila masuk dalam masjid, segeralah cari tempat untuk kita bersolat.

Tapi kami tidak boleh berlama-lama disebabkan nak kejar masa ,takut terlepas waktu zohor..lagipun kalau dah nak dekat solat zohor,bas dah tak boleh masuk area hotel, karang kami kena menapak jauh, kesian pula pada warga emas. Jadi aku takde lah soping sangat masa kat Jaranah, walupun mcm menarik semua barang-barang dagangan yg dijual di sekitar Jaranah, tapi aku hanya membeli kasut tawaf.

Aku juga melihat banyak juga penjual yg menjual kain ihram, jadi kalau sesiapa yg tiada pakaian ihram bagi lelaki, boleh lah beli di sini ,dan boleh lah buat umrah.

selepas naik bus, baru aku berniat untuk umrah.Dalam perjalanan balik ke Hotel kami Singgah di Jabal Nur di mana di situ terdapat Gua Hira.

Gua Hira berada di Jabal Nur. Jabal artinya gunung, Nur artinya cahaya. Jabal Nur letaknya sekitar 6 kilometer ke arah utara Masjidil Haram. Pada bagian puncaknya terdapat sebuah gua yang di bernama Hira. Sejarah penting yang pada Gua Hira adalah turunnya ayat-ayat dari kitab suci Al-Qur’an untuk pertama kali. Saat turun ayat tersebut dikenal dengan hari Nuzulul Qur’an, yaitu tanggal 17 Ramadhan. Adapun ayat yang pertama turun adalah ayat 1 sampai dengan ayat 5 surat Al’alaq, 


 puncak Jabal Nur,pic credit to google
Satu lagi kisah mengenai Jabal Nur dan Gua Hira
 Gua Hira' adalah tempat Nabi Muhammad SAW selalu menyendiri dan bermunajat selain bertahannuth dan bertaqarrub kepada Allah SWT. Baginda juga selalu ke situ bagi menghindari masyarakat Arab Jahiliyah yang pada saat itu masih belum beriman kepada Allah dan sering melakukan maksiat dan dosa-dosa besar.serta isterinya Siti Khadijah yg pada masa itu sedang mengandungsering menghantarkan makan untuk suaminya.

Tapi rombongan kami tidak berpeluang untuk mendaki Jabal Nur atau masuk ke Gua Hira, Ada jer rombongan dari TA lain yang melakukan, tapi kalau di beri peluang satu hari nanti, kesihatan yg baik, aku ingin juga mencuba.
 

Dari Jabal Nur, kami terus pulang ke Hotel untuk solat Zohor berjemaah ,dan membuat Umrah.


Sabtu, 25 Oktober 2014

Cara Solat Duduk

Salam
Bolehkah sasaorang tu yang tak boleh sujud sebab kecederaan pada lututnya bersalat duduk diatas kerusi dari awal salat hingga akhirnya tanpa berdiri dan rukuk walaupun ia mampu berbuat demikian?

Terima Kasih.

***************

wa'alaikumussalam

Alhamdulillah. Kami akan cuba menjawab soalan sdr Tengku dengan kadar kemampuan yang ada, Insyaallah.

Mengenai Solat wajib secara duduk bagi seorang yang masih mampu berdiri, adalah tidak dibenarkan menurut makna umum firman Allah swt :-


وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

"dan berdirilah kerana Allah (dalam sembahyang kamu) dengan taat dan khusyuk" - [al-Baqarah 2:238]

dan juga hadith Imraan ibn Hussein, dimana Rasulullah saw bersabda :

صلِّ قائماً فإن لم تستطع فقاعداً ، فإن لم تستطع فعلى جنب

"Solatlah berdiri, jika tidak mampu hendaklah duduk, dan jika tidak mampu berbaring disebelah tepi" - [hadith riwayat al-Bukhaari #1117] -[Fataawa al-Lajnah al-Daa’imah, 8/126].

Pada dasarnya, seorang yang sakit hendaklah melakukan solat mana yang mungkin pada setiap rukun solat, dan dia tidak perlu melakukannya posisi mana yang tidak mampu dilakukan, sebagaimana firman Allah swt :

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

"Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya." - [al-Baqarah 2:286]

Begitu juga dengan sabda Nabi saw :

إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

"Jika apa aku perintahkan kamu melakukan sesuatu, maka lakukan sejauh mana yang kamu mampu" - [Hadith riwayat al-Bukhaari #7288, Muslim #1337]

Bagi keadaan yang dinyatakan diatas, apa yang boleh dilakukan ialah, lakukan Qiam seperti biasa (kerana ia mampu melakukan), kemudian rukuk, dan bila tiba rukun sujud, maka bolehlah duduk diatas kerusi sambil menundukkan kepala kedepan bagi menandakan situasi sujud. Menurut bekas Mufti Arab Saudi, Syiekh Abdul Aziz bin Baaz [Ahkaam Salaat al-Mariid wa Tahaaratihi]:-

ومن قدر على القيام وعجز عن الركوع أو السجود لم يسقط عنه القيام ، بل يصلي قائماً فيومئ بالركوع ( يعني وهو قائم ) ، ثم يجلس ويومئ بالسجود . . . ويجعل السجود أخفض من الركوع

"Barangsiapa yang mampu berdiri tetapi tidak mampu rukuk atau sujud TIDAK dikecualikan dari kewajipan berdiri (qiam), bahkan ia hendaklah solat berdiri, kemudian kedepan sedikit untuk rukuk (yakni dia masih qiam), kemudian duduk dan kedepan sedikit untuk sujud, ia harus kedalam sedikit bagi membezakan dengan rukuk"

Tambah beliau lagi :

ومتى قدر المريض في أثناء الصلاة على ما كان عاجزاً عنه من قيام أو قعود أو ركوع أو سجود انتقل إليه وبنى على ما مضى من صلاته

"Dan semasa solat, jika seorang yang sakit itu boleh melakukan sesuatu yg ia tidak boleh melakukan sebelum itu, seperti berdiri, duduk, rukuk atau sujud, dia harus mula melakukannya dan meneruskan dari apa yang dia boleh bagi menyempurnakan solat"

Kesimpulannya, jelas menunjukkan jika seorang yang sakit mampu berdiri semasa solat fardu, kewajipan berdiri itu masih tidak terangkat darinya. Duduk dibenarkan didalam kondisi rukun mana yang seseorang pesakit itu tidak mampu melakukannya, Bagi solat sunat, bolehlah seseorang itu melakukan solat sepenuhnya sambil duduk. wallahu'alam.

wassalam
================
Rujukan :

1] Fatawa Al-Lajnah al-Daa’imah li’l-Buhooth al-‘Ilmiyyah wa’l-Ifta’ - 8. cetakan ke 3. Riyad : dar Al-Mua'yad, 2000.

Persoalan dan Hukum Berkaitan Mendirikan Solat Atas Kerusi

Pendahuluan
Suatu perkara yang sering kita jumpa pada masa kini apabila ke masjid untuk menunaikan solat jumaat atau solat fardu, seseorang yang turun dari kenderaan, berjalan naik ke masjid dan nampak sihat tetapi apabila ingin menunaikan solat jumaat atau fardu mereka menunaikannya di atas kerusi.Saya terfikir dan saya rasa saudara juga terfikir adakah mereka tidak boleh berdiri langsung atau boleh berdiri cuma bukan dalam masa yang lama.Menunaikan solat dalam keadaan berdiri, rukuk, sujud mengikut ketetapannya merupakan rukun solat yang tak boleh ditingggalkan kecuali dalam keadaan keuzuran. Apabila adanya sedikit keuzuran ia bukanlah tiket untuk meninggalkan kesemua rukun yang diwajibkan.

Kertas kerja ini hasil tulisan yang saya terjemahkan untuk perkongsian maklumat bagi pembaca yang tidak berkemampuan untuk membaca teks asal dalam bahsa arab semoga ia memberi manfaat kepada kita bersama.

بسم الله الرحمن الرحيم


1.0 Muqaddimah
Mengangkat kesukaran dan mengelakkan mashaqqah adalah salah satu daripada kaedah syarak.Ia merupakan satu dasar yang tetap daripada dasar-dasar syariat Islam yang bersifat toleransi. Mashaqqah sebagaimana yang diketahui umum membawa kepada kemudahan.dan kesenangan. Berdasarkan asas ini, seseorang yang mendirikan sembahyang apabila tidak mampu untuk melakukan kesemua rukun atau sebahagian rukun tersebut sebagaimana yang diwajibkan maka akan gugurlah apa yang tidak mampu tersebut. Dia dibenarkan untuk melaksanakan mengikut keadaannya dan kadar kemampuannya, Syeikh Islam Ibn Taimiyyah pernah berkata “telah bersepakat kaum muslimin sesiapa yang tidak mampu melakukan sebahagian daripada kewajipan-kewajipan solat seperti berdiri, membaca ayat-ayat tertentu, rukuk, sujud ,menutup aurat, mengadap kiblat atau lain-lain kewajipan maka gugurlah apa yang tidak mampu dilakukan tersebut.

2.0 Dhabit Keuzuran
Walaupun demikian perlu difahami bahawa bukan setiap mashaqqah atau keuzuran yang menimpa akan menggurkan rukun-rukan dalam solat. Pertimbangan dalam menggugurkan kewajipan tersebut ialah, apabila melakukan rukun tersebut akan menyebabkan kesukaran yang melampau atau boleh menyebabkan bertambahnya kesakitan yang sedia ada. Menurut Imam Nawawi ‘telah berkata ashab al-Shafie, tidak disyaratkan dalam menentukan keuzuran dia tidak boleh berdiri dan tidak juga dianggap mashaqqah dengan hanya sedikit kesukaran bahkan yang dikira mashaqqah ialah masyahqqah yang jelas dan nyata .

3.0 Keuzuran Yang Menggurkan Kewajipan
Imam al-Shaukani menyebut “yang dikategorikaan tidak mampu dalam mazhab shafie ialah adanya mashaqqah atau adanya kebimbangan akan bertambahnya sakit atau takut binasa bukan sekadar sakit biasa . Ibn Usaimin pula berpendapat dalam menentukan tahap mashaqqah ialah dengan adanya kesukaran tersebut boleh menghilangkan kekhusukan yang dimaksudkan dengan khusuk di sini ialah hadirnya hati serta mendapat ketenangan.

Sesungguhnya telah berlaku ijmak dikalangan ahli ilmu ‘ bahawa sesiapa yang mendirikan sembahyang fardu dalam keadaan duduk sedangkan dia mampu untuk berdiri, maka solatnya terbatal. Ketetapan ini adalah berdasarkan firman Allah Taala dalam surah al-Baqarah yang bermaksud “peliharalah segala solat(mu) dan (peliharalah) solat wusta .berdirilah kerana Allah dalam solatmu) dengan khusuk. . Juga berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w “Tunaikan solat dalam keadaan berdiri sekiranya tidak mampu maka duduklah sekiranya tidak mampu maka mengiringlah”.

4.0 Keadaan Orang Yang sembahyang Duduk
Orang yang mendirikan sembahyang dalam keadaan duduk situasinya sebagimana berikut :

4.1 Situasi Pertama
Tidak mampu untuk berdiri walaupun sekejap serta tidak mampu untuk rukuk, sujud sebagaimana yang dikehendakinya. Dalam situasi ini hendaklah dia menunaikan sembahyang dalam keadaan duduk sebagaima yang dijelaskan oleh Rasulullah s.aw “Sembahyanglah dalam keadaan berdiri sekiranya tidak mampu hendaklah duduk” dan hendaklah ia mengiring untuk rukuk dan sujud hendaklah dia rendahkan sujud melebehi rukuknya.

4.2 Situasi Kedua
Mampu untuk berdiri beberapa ketika tetapi tidaklah mendatangkan kesukaran yang terlampau baginya atau tidak menambahkan lagi beban penyakit yang sedia ada. Dalam keadaan ini dia hendaklah sembahyang dalam keadaan berdiri mengikur kemampuannya apabila menimbulkan kesukaran maka dibolehkan untuknya duduk. Firman Allah dalam surah al-Tagabun ayat 16 yang membawa maksud “bertaqawalah kamu kepada Allah mengikut kemampuan kamu”. Al-Sa’di ketika menghuraikan ayat di atas berkata “Ayat ini menjadi bukti bahawa setiap kewajipan yang tidak mampu dilakukan oleh seseorang hamba akan gugur kewajipan tersebut. Apabila ia mampu melakukan sebahagian dari kewajipan tersebut dan tidak mampu sebahagian lagi maka hendaklah dia menunaikan sebahagian kewajipan yang mampu tersebut.. Dalam hal ini Rasulullah s.a.w telah bersabda “ Apabila kamu diperintahkan dengan sesuatu maka hendaklah kamu melakukan mengikut kemampuan kamu” kemudian selepas itu hendaklah kamu rukuk dalam keadaan berdiri dan sujud ditempatnya.

4.3 Situasi Ketiga
Sekiranya berdiri akan menyebabkan kesakitan yang amat sangat atau bertambah teruk kesakitannya. Dalam situasi ini hendaklah dia mendirikan solat dalam keadaan duduk. Memetik penjelasan yang dibuat oleh Syeikh Usaimin “sekiranya dia mengagahkan diri untuk berdiri dia tidak akan berdiri dengan tetap serta dirinya tidak berasa tenang, serta dia mengharapkan agar Fatihah dapat dihabiskan dengan segera supaya dapat rukuk disebabkan tidak dapat menanggung kesukaran tersebut, ini adalah suatu kesukaran yang membolehkannya untuk duduk .

Apa yang disebutkan tadi dengan syarat dia hendaklah melakukan takbiratul ihram dalam keadaan berdiri kemudian barulah dibenarkan untuk duduk. Sekiranya dia melakukan takbiratul ihram dalam keadaan duduk solatnya tidak sah. Imam al-Nawawi berkata “ wajib melafazkan takbiratul ihram dengan kesemua hurufnya dalam keadaan berdiri, sekiranya salah satu huruf dilafazkan dalam itu, semasa dia dalam keadaan duduk maka solat fardunya tidak sah. Pendapat ini disepakiti oleh semua ulama. Kemudian selepas itu hendaklah dia rukuk dalam keadaan berdiri jika ada kemampuan kemudian bangkit dari rukuk dalam kedaan berdiri seterusnya melakukan sujud dilantai.

4.4 Situasi Keempat
Tidak mampu untuk rukuk mengikut ketetapannya tetapi mampu untuk berdiri. Dalam situasi ini tidak dibolehkan untuknya duduk serta tidak gugur kewajipannya qiam begitu juga tidak gugur ke atasnya untuk rukuk dalam keadaan berdiri, maka untuk rukuk hendaklah dia mengiring atau merendahkan kedudukannya ketika dalam keadaan berdiri. Ibn Qudamah berkata ‘sesiapa yang mampu untuk berdiri tetapi tidak mampu untuk rukuk dan sujud dalam keadaannya, kewajipan berdiri masih dikenakan. Oleh itu, hendaklah dia sembahyang dalam keadaan berdiri kemudian untuk rukuk hendaklah dia mengiring mengiring untuk rukuk, seterusnya sujud dilantai sekiranya mampu.

4.5 Situasi Kelima
Tidak mampu untuk sujud sebagaimana yang diperintahkan tetapi mampu untuk berdiri. Dalam situasi begini dia tidak harus duduk serta tidak gugur kewajipan qiam ke atasnya serta tidak gugur kewajipan rukuk dalam keadaan qiam, untuk sujud hendaklah dia duduk dan mengiringkan badannya.. Dalam hal ini Ibn Qudamah berkata sesiapa yang mampu untuk berdiri tetapi tidak mampu untuk rukuk atau sujud kewajipan qiam tidak gugur keatasnya, kemudian dia hendaklah duduk serta mengiring untuk sujud .

Hendaklah dia melakukan rukuk dalam keadaan berdiri mengikut keadaan yang diperintahkan sekiranya dia mampu untuk meletakkan tangan di lantai semasa sujud hendaklah dia melakukan sedemikian sekiranya tidak mampu hendaklah dia meletakkan atas kedua lututnya.

Ibn Baz berkata : Adapun sujud yang wajib dilakukan ialah dengan meletakkan kedua belah tangan dilantai dan sujud sekiranya mampu sekiranya tidak berkemampuan hendaklah dia sujud dengan meletakkan kedua belah tangan diatas kedua lututnya. Hal ini berdasarkan hadis Rasululaah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim “Aku menyuruh kamu untuk sujud di atas tujuh tulang iaitu dahi kemudian nabi tunjukkan dengan tangan baginda kearah hidung, kedua belah tangan, kedua lutut kedua hujung jari.,

5.0 Kedudukan Kerusi Dalam Saf

Kerusi yang digunakan oleh orang yang keuzuran ketika melakukan solat sama ada ;

5.1 Kedudukan Pertama
Orang yang mendirikan solat duduk sepanjang masa di atas kerusi tersebut. Dalam keadaan ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Usaimin hendaklah menjadikan kaki-kaki kerusi bahagian belakang selari dengan kaki-kaki makmum yang lain .

Juga hendaklah mengambil kira jenis kerusi yang didudukinya , yang mana punggungnya hendaklah bersebelahan dan selari dengan kaki orang lain tanpa mengambil kira kedudukan kaki kerusi sama ada terkedepn atau terkebelakang . Apa yang diambil kira kedudukan kaki ialah tumit belakang bagi yang berdiri, atau punggung yang duduk atau tepi atau sisi bagi yang berbaring.

5.2 Kedudukan Kedua
Orang yang mendirikan solat hanya duduk di atas kerusi di masa-masa tertentu sahaja sama ada ketika rukuk atau sujud bukan ketika berdiri. Dalam situasi ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh Abdul Rahman al Barrak kedudukannya dalam saf semasa berdiri. Maka dalam situasi ini kerusi hendaklah berada dibelakang saf. Disamping itu hendaklah memerhatikan bahawa kerusi tersebut tidak akan mendatangkan masalah kepada makmun yang berada di belakangnya .

6.0 Penutup
Perbincangan yang disebutkan dan dijelaskan di atas berkaitan solat fardu. Adapaun solat sunat tuntutanya adalah luas Oleh itu tidak ada masalah untuk mendirikan solat dalam keadaan duduk walaupun bukan dalam keuzuran tetapi perubatan tersubut merupakan khilaf afdal. Sekiranya dilakukan dalam keadaan duduk ganjaranya separuh daripada melakukan dalam keadaan dengan berdiri Umran bin Husain yang ditimpa penyakit bawasir telah bertanya Rasulullah tentang lelaki yang mendirikan solat dalam keadaan duduk jawab Rasulullah “ sekiranya dia melakukan dalam keadaan berdiri itu lebih baik, sesiapa yang mendirikan solat dalam keadaan duduk dia akan memperolehi separuh ganjaran berbanding yang berdiri sesiapa yang solat dalam keadaan berbaring akan memperolehi separuh dari yang duduk. Yang dimaksudkan dengan solat dalam hadis di atas ialah solat sunat sebagaiman yang diisyaratkan oleh Ibn Battal dalam kitab syarah hadisnya.

Sekiranya dia melakukan solat dalam keadaan duduk disebabkan keuzuran maka pahala yang akan diperolehinya sama seperti solat dalam keadaan berdiri. Imam Nawawi berkata adapun jika dia melakukan solat sunat dalam keadaan duduk kerana tidak mampu untuk berdiri maka pahala yang diperolehi tidak akan berkurangan bahkan pahalanya seperti mereka yang melakukan dalam keadaan berdiri.

Penulis asal bahasa Arab ;
Abdul Rahman Jarullah al-ajami

Diterjemahkan :
Ustaz Wan Mohd Zul Bin Wan Yusuf
Polimas
22/4/2013

Cara solat ketika sakit secara duduk bergambar




Orang sakit dikehendaki mengerjakan solat mengikut apa cara yang termampu. Sekiranya tidak mampu berdiri bolehlah solat sambil duduk. Jika tidak mampu duduk maka hendaklah mengiring di atas rusuk kanan/kiri dan menghadapkan dada dan mukanya ke arah kiblat. Jika tidak boleh mengiring maka hendaklah melentang dengan kakinya menghadap kiblat dan kepala diangkat sedikit. Dalam keadaan tidak mampu melakukan ruku’ dan sujud maka solatlah dengan isyarat kepala sahaja atau dengan mata apabila tidak mampu dengan kepala. Seterusnya dengan hati sahaja sekiranya tidak mampu dengan mata.

Dalil Rukhsah Solat

Maksud Hadis:
Dari Imran bin Hashin (r.a) telah berkata Adalah aku menghidap buasir maka aku bertanya Rasulullah s.a.w.
dari hal solat, maka berkata Rasulullah s.a.w. Solatlah dalam keadaan berdiri, maka jika kamu tidak mampu,
hendaklah kamu duduk, jika kamu tidak mampu maka hendaklah kamu mengiring..
( Riwayat al Bukhari )

Cara Solat Sambil Duduk

Duduk menghadap kiblat mengikut keselesaan pesakit. Sebaik-baik solat duduk ialah duduk iftirash seperti dalam gambar



Takbiratul Ihram seperti gambar di atas



Membaca al-Fatihah



Ketika ruku’ hendaklah menundukkan kepala hingga sampai paras lutut setentang dahi dengan hadapan sujud. Sekiranya tidak mampu, hendaklah tunduk yang dapat membezakan dengan perbuatan sujud.



Ketika I’tidal hendaklah diangkatkan kepala semula sambil mengangkat tangan seperti takbiratul ihram, kemudian meluruskan kedua-dua tangan seperti pada gambar diatas



Membaca doa Qunut bagi Solat Subuh



Sujud dilakukan seperti biasa. Sekiranya tidak dapat sujud seperti biasa, hendaklah menundukkan kepala lebih sedikit daripada had ruku’. Sekiranya masih tidak mampu , memadai membezakan antara ruku’ dan sujud.


Duduk antara dua sujud


Membaca Tahiyyat


Melafazkan salam dengan berpaling muka ke kanan.


Melafazkan salam dengan berpaling muka ke kiri


Solat Di atas Kerusi:
Perhatian kepada mereka yang melakukan solat secara duduk di atas kerusi, di dalam solat fardhu.
Anda tidak boleh sekali-kali meninggalkan rukun solat yang mampu dilakukan.
Contohnya: Orang yang mampu melakukan rukun-rukun seperti sujud, duduk antara dua sujud, duduk untuk tasyahhud akhir, sedangkan dia hanya solat duduk di atas kerusi tanpa turun ke atas lantai untuk melakukan rukun yang tersebut maka solatnya tidak sah.
Begitu juga dengan rukun yang lain, jika dia mampu seperti Qiyam (berdiri) maka ditinggalkannya dengan duduk atas kerusi, solatnya tidak sah.

Khamis, 3 Julai 2014

Rasulullah Mengingatkan Agar Berakhlak Mulia

Ikmal Johari | Tuesday, 7 September 2010

Semasa rasulullah menghantar Mu’az bin Jabal ke Yaman, baginda sempat menitipkan beberapa pesananan kepadanya. Antara pesanan yang diingatkan oleh rasulullah kepada Mu’az ialah agar beliau sentiasa berlaku baik dalam pergaulan dengan orang ramai.

Sabda Rasulullah dalam hadith hasan sahih yang direkodkan oleh Imam Tirmidzi, “Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”

Pesanan ini diberikan oleh Rasulullah kerana ia mempunyai kepentingan yang tersendiri. Lebih-lebih lagi, kehadiran Mu’az di Yaman adalah sebagai duta Islam yang akan menjadi guru, tempat rujukan feqh dan hakim kepada penduduk di sana. Oleh sebab itu, Mu’az perlu bergaul dengan cara yang baik dan sentiasa menunjukkan akhlak yang mulia kepada para penduduk.

Menurut Ibnu Rajab al-Hanbali, Rasulullah mengingatkan Mu’az terhadap hal ini kerana kebanyakkan manusia menyangka bahawa ketaqwaan hanya boleh dicapai dengan melaksanakan perintah Allah tanpa mengambil kira hak hamba-Nya. Sedangkan bersikap baik dengan orang ramai juga antara pra-syarat seseorang itu mendapat keredhaan Allah.

Allah telah berfirman dalam surah al-Imran 3: 133-134 yang bermaksud, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (iaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang mahupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Bersikap baik dengan akhlak islam adalah tuntutan yang besar dalam agama. Dalam sebuah hadith yang direkodkan oleh Imam Ahmad, An-Nasai, Ibnu Majah dan Abu Daud, Rasulullah pernah ditanya oleh para sahabat tentang apakah anugerah terbaik yang boleh diberikan oleh seorang Muslim kepada orang lain. Maka Rasulullah menjawab, “Akhlak yang baik.”

Bukan itu sahaja, Rasulullah juga memberitahu kepada para sahabat bahawa orang yang berakhlak mulia akan mencapai darjat seperti seorang yang berpuasa dan berqiamulail (solat malam). Berita gembira ini disampaikan oleh Rasulullah agar orang yang mengejar takwa tidak hanya terus-menerus berpuasa dan berqiamulail sedangkan mereka meninggalkan akhlak yang mulia.

Imam Ahmad dan Abu Daud merekodkan bahawa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin yang berakhlak mulia mencapai kedudukan seperti seorang yang berpuasa dan berqiamulail.

Jika bercakap tentang akhlak mulia, pasti semua agama turut menekankan hal ini. Namun yang membezakan Islam dengan agama yang lain ialah petunjuk datang dari Allah dan Rasul.

Neraca ataupun petunjuk bagaimanakah sikap akhlak yang diterima oleh Islam sudah pasti diambil dari diri Nabi Muhammad SAW. Selari dengan apa yang difirmankan oleh Allah dalam surah al-Ahzab 33:21 yang bermaksud, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Manakala Imam al-Hakim pula merekodkan sebuah hadith dari Uqbah bin Amir al-Juhani, katanya: “Rasulullah bersabda kepadaku: Wahai Uqbah mahukah saya memberitahumu akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling mulia? Kamu menyambung silaturahim orang yang memutuskannya, kamu membantu walaupun sebelum ini dia enggan membantumu, dan kamu memaafkan sesiapa yang menzalimimu.

Manakala Salam bin Abu Muti’ pernah ditanya oleh orang ramai tentang akhlak mulia. Kemudian beliau menjawab soalan ini dengan membaca beberapa rangkap puisi. Katanya:

Kamu melihatnya apabila dia datang dengan wajah yang girang, Seolah-olah kamu memberinya barang yang kamu minta daripadanya, Jikalau hanya rohnya sahaja yang dimilikinya, Dia tetap bermurah hati memberinya kepada pemintanya, Maka peminta hendaklah bertaqwa kepada Allah, Dia tetap lautan walau dari sudut mana kamu mendatanginya, Laut dalamnya mengandungi kebaikan dan pantainya mencurahkan kemurahan.

Sahih Bukhari Kitab Solat Sesi 17 Bab Bersembahyang Dengan Melapik

بَاب الصَّلَاةِ عَلَى الْخُمْرَةِ
Bab 21 Bersembahyang Dengan Melapik Sejadah Kecil
Imam Bukhari masih lagi membincangkan tentang penggunaan lapik dalam solat. Walaupun sebelum ini telah disentuh dalam bab yang lain tapi Imam Bukhari meletakkan dalam satu tajuk yang khas. Supaya manusia tidak terkeliru. Takut ada yang baca hadis tentang Nabi mengatakan bahawa bumi dijadikan tempat sujud. Takut ada yang ingat kena betul-betul sujud atas tanah. Tidak begitu.

Perbuatan Nabi menggunakan pelapik itu menunjukkan harus. Bukanlah Sunnah. Sebab bukanlah sentiasa Nabi pakai pelapik. Ada ketikanya Nabi sujud terus atas tanah. Cuma bagus kalau dengan pelapik itu akan menyebabkan kita lagi khusyuk kerana sebab-sebab tertentu, seperti tempat sujud panas. Atau tempat sujud kotor dan sebagainya.
368 – حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ الشَّيْبَانِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادٍ عَنْ مَيْمُونَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ
368. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman Asy Syaibani dari ‘Abdullah bin Syaddad dari Maimunah ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu solat dengan melapik khumrah (sejadah kecil).”
Dari segi bahasa, hadis menunjukkan Nabi selalu pakai khumrah. Bukan setiap kali dan bukan hanya sekali sekala sahaja. Kalau faham bahasa Arab, kita boleh faham banyak benda dari ayat yang ringkas sahaja. Sebab itu ada yang kata Sunnah dan ada kata tidak.
————————————————————————————————–
بَاب الصَّلَاةِ عَلَى الْفِرَاشِ
Bab 22 Bersembahyang Di Atas Tilam
وَصَلَّى أَنَسٌ عَلَى فِرَاشِهِ وَقَالَ أَنَسٌ كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَسْجُدُ أَحَدُنَا عَلَى ثَوْبِهِ
Anas bin Malik bersembahyang di atas tilamnya. Anas berkata: Kami selalu bersembahyang bersama Rasulullah SAW dalam keadaan ada diantara kami orang yang bersujud di atas kain yang dipakainya – (dipakainya sendiri)
Hadis ini menunjukkan solat atas tilam bukan khusus untuk Nabi sebab Anas pun buat. Takut ada yang kata bahawa solat atas tilam itu hanya khusus kepada Nabi sahaja. Tapi kali ini kita boleh lihat, Anas pun solat atas tilam juga. Ini terjadi lepas wafat Nabi. Jadi kebolehan solat di atas tilam tak mansukh.
Nabi sering solat atas tilam. Dan tilam itu bukan yang khusus untuk solat. Memang tilam yang dipakai untuk tidur. Tidak kotor kah kalau begitu? Hukumnya adalah, kalau tak nampak kekotoran, boleh pakai. Mudah kalau begitu. Boleh pakai walaupun tilam yang sama digunakan untuk bersetubuh dengan isteri. Sebab nanti kita akan lihat ada hadis yang menunjukkan tilam yang digunakan oleh Nabi itu adalah tilam yang sama digunakan oleh baginda dan isterinya.

Bahagian kedua tajuk diatas menunjukkan boleh menggunakan sebahagian kain yang dipakai. Contohnya, sebahagian dari lengan baju, sebahagian dari serban, sebahagian dari kain kelubung wanita dan sebagainya. Ini hendak menolak pendapat syafiiyah yang kata tak boleh sujud atas kain baju yang bergerak sekali dengan kita. Kalau pakai kain lengan, tentulah bergerak sekali sebab kain itu bergerak bersama dengan kita. Imam Bukhari nak mengatakan bahawa boleh kalau berlapik dengan kain yang macam itu pun. Dan inilah juga pendapat jumhur ulama. Kalau mazhab Syafie kata tak jelas bahawa itu adalah kain yang dipakai dibadan, mungkin kain lain yang dipakai mereka, jawapannya adalah zaman itu memang sahabat tak banyak kain.

Ini bukan guna kain yang lain tapi yang dipakai oleh kita. Yang ada ditubuh. Kalau ada hadis yang mengatakan tidak boleh, itu adalah bercanggah dengan hadis yang sahih. Kerana memang hadis yang mengatakan Nabi tidak menggunakan ‘kain dalam’ sebagai lapik sujud. ‘Pakaian dalam’ disini bukan kain dalam yang macam kita faham tapi adalah bermaksud yang kena tubuh. Hadis itu tidak kuat.
369 – حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ كُنْتُ أَنَامُ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَايَ فِي قِبْلَتِهِ فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي فَقَبَضْتُ رِجْلَيَّ فَإِذَا قَامَ بَسَطْتُهُمَا قَالَتْ وَالْبُيُوتُ يَوْمَئِذٍ لَيْسَ فِيهَا مَصَابِيحُ
369. Telah menceritakan kepada kami Isma’il berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Abu An Nadlr mantan budak ‘Umar bin ‘Ubaidullah, dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari ‘Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Aku tidur di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan kakiku berada di sebelah Qiblatnya (melintang di tempat sujud). Baginda akan mengisyaratkan kepadaku dengan menyentuh kakiku apabila hendak sujud, maka aku melipat kedua belah kakiku. Dan apabila baginda bangun, aku kembali meluruskan kakiku.” ‘Aisyah berkata, “Pada masa itu di rumah-rumah tidak ada lampu.”
Hadis ini menunjukkan bahawa Nabi sedang solat atas tilam walau tidak nyata. Sebab kalau dilihat bahawa Aisyah tidur depan Nabi. Tentulah Aisyah tidur atas tilam. Itu adalah lihat dari keadaan.

Ada juga hadis yang mengatakan ada tiga perkara yang boleh memotong solat: perempuan, himar dan anjing. Tapi hadis ini menunjukkan kalau lintas jalan tak boleh tapi kalau tidur tetap macam Aisyah ini, boleh.
Hadis ini juga menunjukan bahawa kalau sentuh perempuan tidak batal wudu. Selalunya kalau seseorang itu tidur, ada kemunginan kakinya terdedah. Keadaan waktu itu gelap pula sebab Aisyah sendiri kata masa itu rumah tidak ada lampu. Nabi pun tak pesan awal-awal kepada Aisyah untuk menutup bahagian tubuhnya. Tiada dalil pun yang kata Aisyah itu berlapik. Kerana kepada mereka yang kata kaki Aisyah waktu itu berlapik, tidak ada dalil. Kalau menyentuh perempuan akan membatalkan wudu, tentu Nabi akan berhati-hati. Tapi tidak nampak dalam hadis ini. Nabi terus sahaja sentuh kaki Aisyah. Takkan Nabi nak ambil kebarangkalian solatnya akan terbatal pula. Sudahlah dah lama solat, tapi waktu sujud, terbatal pula.
Lelaki boleh solat dengan perempuan dihadapan. Tidak memotong atau membatalkan solat itu. Asalkan tidak terganggu. Janganlah buat macam itu kalau sambil solat itu, teringat pula apa yang dia nak buat kepada isterinya.

Sedikit pergerakan tidak membatalkan. Dalam hadis ini, Nabi menjamah kaki Aisyah. Itu bukanlah sebahagian dari perbuatan solat.

Boleh mengadap orang tidur. Walaupun terbuka kepada berbagai kemungkinan. Ada kemungkinan kaki dia akan sepak kita, dia tersentuh kita dan sebagainya.

Selalu kita dengar Nabi solat tapi isterinya tidur. Ini kerana kepada Nabi, solat sunat malam adalah wajib bagi baginda, tapi tidak kepada orang lain. Nabi tidak menyusahkan isteri-isteri baginda. Tapi selalunya, selepas waktu tertentu, Nabi akan menggerak juga isterinya untuk solat juga. Jadi, kalau kita kuat untuk solat malam, tidak semestinya isteri kita juga kena solat bersama kita. Mungkin mereka penat menjaga anak dan memasak. Kena faham situasi mereka.
370 – حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهِيَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ عَلَى فِرَاشِ أَهْلِهِ اعْتِرَاضَ الْجَنَازَةِ
370. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits telah menceritakan kepadaku ‘Uqail dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Urwah bahwa ‘Aisyah mengabarkan kepadanya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam salat diatas tilam isterinya dalam keadaan dia terlintang diantara baginda dan kiblat (tempat sujudnya) seperti terlintangnya jenazah (apabila disembahyangkan).”
Hadis ini jelas bahawa bukanlah tilam itu tilam khas untuk solat tapi tilam yang digunakan untuk tidur.
Kepala Aisyah di sebelah kanan Nabi. Macam itulah juga cara solat perempuan. Menunjukkan boleh belaka nak letak jenazah. Lelaki perempuan. Kerana di tempat kita, ada yang meletakkan kepada jenazah di bahagian kiri makmum solat jenazah. Padahal tidak begitu. Dan imam solat jenazah juga berada di bahagian mana-mana jenazah itu samada jenazah lelaki atau perempuan.
Kaki Aisyah waktu itu ada di tempat sujud.
371 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ عِرَاكٍ عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَعَائِشَةُ مُعْتَرِضَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ عَلَى الْفِرَاشِ الَّذِي يَنَامَانِ عَلَيْهِ
371. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid dari ‘Irak dari ‘Urwah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dalam keadaan ‘Aisyah terlintang diantara baginda dengan kiblatnya, di atas tilam yang berdua mereka tidur.
Tilam yang sama pakai tidur dan bersetubuh tentunya. Menunjukkan boleh pakai tilam itu walaupun ada kemungkinan najis. Asalkan tidak nampak najis. Atau kalau ada bekas mani atau mazi pada bahagian lain tilam itu, kalau tidak kena pada bahagian tubuh kita waktu solat, tidak membatalkan wudu.

Rabu, 28 Mei 2014

Logo Halal Mana Pilihan Kalbu

Di bawah ini diletakkan berapa logo HALAL yang dikeluarkan sama ada dari negara luar atau dalam dan juga halal yang dikeluarkan oleh syarikat swasta yang rasanya biasa kita lihat diletakkan pada label barangan makanan selalunya.






Dari logo-logo ini yang mana tulen? dan bagaimana nak kenal ketulinannya. Kalau logo itu tulen bagai mana nak tahu adakah ia diiktiraf oleh JAKIM ini disebabkan ada pengiktirafan halal oleh sesetengah badan atau negara luar yang tidak diterima pakai oleh JAKIM. Dimanakah maklumat mengenai tanda-tanda halal ini dapat diperolehi. Adakah maklumat mengenai perkara ini ada pada JAKIM. Perlukah setiap kali hendak membeli kena talefon JAKIM atau kena melayari laman web JAKIM?. Ada juga Jabatan Agama Negeri yang mengeluarkan sijil halal, tetapi dengan sedikit penambahan iaitu terdapat kolum bertulis H - diikuti oleh no. pendaftaran mengikut negeri sebagai contoh bagi Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur H -14, bagi logo halal yang dikeluarkan oleh Jab. Agama Islam Selangor ( H-10), bagi logo halal yang dikeluarkan oleh Jab. Agama Islam Johor ( H- 01) dan begitulah seterusnya mengikut no. pendaftaran negeri-negeri.

Kenapa Malaysia yang tak seberapa luas ini mempunyai perbezaan dari segi logo seolah-olah setiap negeri mempunyai kayu ukur sendiri menentukan halal-haramnya. Sebolehnya diujudkan satu kelas penentuan yang mengguna pakai satu logo sahaja.

Cadangan aku saja, kalau boleh JAKIM atau Jabatan Agama Negeri membuat satu direktori / makalah yang diedarkan atau diletakkan di tempat orang ramai seperti pintu masuk pasa raya. Atau boleh juga dipaparkan dalam akhbar. Tak perlu setiap hari cukuplah sekadar sekali atau dua kali setahun.

Satu lagi buat pada logo tersebut diletakkan bar-kod. Kita selalu lihat di pasa raya besar diletakkan bar-kod  untuk melihat harga. Jadi guna konsep yang sama untuk memudahkan pengguna memastikan produk yang dibeli halal dan sijil yang digunakan masih sah.

Harap isu halal-haram ini bukan setakat isu bermusim sahaja tetapi perlu tindakan berterusan.

Ini logo yang sahih...

Ahad, 24 November 2013

Fadhilat Untuk Isteri Dari Suami Dijanjikan Pahala ALLAH SWT


Untuk mendapatkan keberkatan dan keredhaan Allah Subhanallah Taala untuk muslimah adalah terletak pada tanggungjawab/ peranan isteri terhadap suami.
 
Antara tanggungjawab yang wajib untuk isteri mendapat lebih pahala adalah seperti dibawah :-
 
1. Memberi/membuat segelas air untuk suami

Fadhilat : mendapat pahala puasa sunat 1 tahun
 
2. Menyedia/memasak makanan yang mengenyangkan suami

Fadhilat : mendapat pahala haji dan umrah
 
3. Perkhidmatan yang diberi pada suami

Fadhilat : mendapat pahala yang tidak putus-putus
 
4. Menghamilkan benih suami

Fadhilat : mendapat pahala syahid
 
5. Isteri mandi Junub dengan suami

Fadhilat : pahalanya seperti sedekah 1000 ekor kambing pada fakir miskin
 
6. Suami meninggal dunia dahulu dari isteri dan meninggalkan anak

Fadhilat : Isteri mendidik anak itu menjadi seorang yg soleh/orang yang berguna dengan didikan agama yang sempurna. Maka suami tetap mendapat pahala dan menjadi benteng dari api neraka. dan sekiranya isteri berkahwin lain, suami yangg meninggal itu tetap dapat pahala sekiranya didikan Isteri pada anak-anak berterusan dengan baik.
 
7. Isteri yang memandang suami dengan harmoni dan menyukakan

Fadhilat : seolah-olah berzikir kepada Allah

8. Sekiranya seorang isteri meninggal dunia dengan keredhaan suaminya dia terus masuk syurga!

Ahad, 20 Oktober 2013

Tidak Akan Masuk Syurga Sesiapa Yang Memutuskan Silaturahim

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيم

Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad SAW keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.

Sahabat yang dirahmati Allah,



Memutuskan silaturrahim adalah satu perbuatan yang dimurkai oleh Allah SWT. Dalam Islam  hukumnya haram dan dikira melakukan maksiat besar sehingga mendapat laknat dari Allah Subhanahu Wa Ta‘ala, Sebagaimana firmanNya yang bermaksud : “(Kalau kamu tidak mematuhi perintah) maka tidakkah kamu harus dibimbang dan dikhuatirkan-jika kamu dapat memegang kuasa-kamu akan melakukan kerosakan di muka bumi, dan memutuskan hubungan silaturrahim dengan kaum kerabat?. (Orang-orang yang melakukan perkara-perkara yang tersebut) merekalah yang dilaknat oleh Allah serta ditulikan pendengaran mereka, dan dibutakan penglihatannya.” (Surah Muhammad ayat 22-23)

Apatah lagi orang yang memutuskan silaturrahim ini tidak masuk syurga, sebagaimana sabda Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang bermaksud : “Tidak masuk syurga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan.” (Hadis Riwayat Muslim)

Menurut Ibnu Abu Jamrah bahawa hubungan silaturrahim boleh dieratkan dengan memberi harta, memberi bantuan dan pertolongan dalam menyampaikan hajat, menolak kemudharatan, bersemuka, mendoakan, mengeratkan dengan apa yang termampu daripada perkara kebajikan dan menolak apa yang termampu daripada keburukan.

Sementara bagi mereka yang jauh bolehlah juga berhubung dan berkirim salam dengan berutus surat, melalui blog atau facebook, E-mel, akan tetapi jika mampu adalah afdhal untuk menziarahi mereka. Begitu juga dengan mendermakan harta kepada kaum kerabat. 

Bersedekah kepada kaum kerabat adalah lebih afdhal dari orang lain, sebagaimana sabda Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam:

الصَدََقةُ عََلى اْلمِسْكِيْ ِ ن: صَدََقٌة، وَعََلى ذِي الرَحْ ِ م اِْثنَتَانِ: صَدََقٌة وَصِلٌَّة.
(سنن الدارمي)

Maksudnya: “Memberi sedekah kepada orang miskin dikira: satu sedekah, dan memberi sedekah kepada mahram dikira dua iaitu: sedekah dan mengeratkan hubungan.” (Hadis Riwayat Sunan ad-Darimi)

Bolehkah menjalinkan hubungan silaturrahim dengan orang kafir?

Dalam hal ini, Allah Subhanahu Wa Ta‘ala tidak melarang berbuat baik kepada orang kafir sebagaimana firmanNya yang bermaksud : " Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana ugama (kamu), dan tidak mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu; sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil." (Surah al-Mumtahanah ayat 8)

Sahabat yang dimuliakan,

Terdapat banyak keistimewaan atau kelebihan mengeratkan silaturrahim. Orang yang mengeratkan silaturrahim akan mendapat sepuluh kelebihan yang terpuji sepertimana disebutkan dalam kitab Bujairimi Ala al-Khatib:

1. Allah Subhanahu Wa Ta‘ala reda kerana Dia memerintahkan supaya mengeratkan silaturrahim.

2. Membawa kebahagiaan.

3. Para malaikat gembira kerana mereka gembira dengan eratnya silaturrahim itu.

4. Memperolehi pujian yang baik daripada orang.

5. Mengisi kesedihan Iblis.

6. Dipanjangkan umur.

7. Memperoleh keberkatan rezeki.

8. Orang yang meninggal dunia mendapat kebahagiaan kerana keturunannya gembira dengan eratnya silaturahim itu.

9. Bertambah-tambah kehormatannya.

10. Bertambah-tambah pahala selepas matinya kerana orang-orang mendoakannya setiap kali disebut kebaikkanya.

Oleh yang demikian, eratkanlah silaturrahim dalam mencapai keistimewaan yang tersebut di atas dan jauhilah dari perkara yang boleh memutuskannya. Tanganilah masalah keluarga dengan perasaan rasional dan eratkanlah semula perhubungan yang sudah retak itu dengan rasa kesedaran serta keinsafan, apatah lagi kerana mereka yang tidak mahu berdamai itu akan dipertangguhkan keampunannya, sepertimana hadis Rasullullah Sallallahu ‘Alaihi
Wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang bermaksud :

“Dibuka pintu-pintu syurga itu pada hari Isnin dan Khamis. Setiap orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni, kecuali seseorang yang sedang dalam permusuhan dengan saudaranya. Dikatakan: 'Tangguhkanlah keduanya sampai mereka mau berdamai. Tangguhkanlah keduanya sampai mereka mau berdamai. Tangguhkanlah keduanya sampai mereka mau berdamai'.” (Hadits Riwayat Muslim)

Begitu juga mendamaikan di antara dua pihak yang berselisih itu hendaklah dengan adil dan saksama dengan tidak menyebelahi mana-mana pihak yang berselisih, kerana semua orang yang beriman itu bersaudara dan bertanggungjawab dalam mendamaikan saudaranya yang lain sebagaimana firman Allah Subahanahu Wa Ta‘ala yang bermaksud :

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah di antara kedua saudara (kamu yang bertelingkah) itu". (Surah Al-Hujurat ayat 10)

Sahabat yang dikasihi,
 
Islam tidak menghalang jika timbul perbezaan pendapat dan pandangan di kalangan umat Islam darisegi untuk menentukan stratigi sesuatu urusan. Kerana perbezaan itu adalah kurniaan Allah SWT kepada setiap manusia supaya mereka mampu menggunakan akal fikiran yang waras dan cerdik. Manusia bukannya robot hanya menerima arahan tanpa berfikir baik buruknya sesuatu pendapat. Yang tidak boleh diperselisihkan adalah arahan daripada Allah SWT dan rasul-Nya mengenai sesuatu hukum yang jelas dan nyata dan tidak boleh dipertikaikan.

Tetapi sekiranya perbezaan itu berlaku darisegi cabang dan ranting dan melibatkan masaalah stratigi sahaja maka perbezaan tetap di benarkan. Cuma kita tidak boleh menjadikan alasan untuk kita berpecah belah dan memutuskan silaturahim kerana perbezaan ini. Dari itu  setiap pihak perlulah berlapang dada sekiranya pendapat saudaranya lebih baik dan lebih bernas dan mantap.

iDAN:

Selain alam nyata nampaknya alam maya atau talian internet juga sering membuatkan seseorang itu terputus talian Silaturahim. Ada sebab cemburu, ada sebab nak glamour, ada sebab nak berkuasa, ada sebab nak tersohor, malahan ada sebab status.

Aku tetap di sini sejak dulu, bukan susah nak kontak aku; bukan cara sms bukan cara telefon pintar. Aku orang miskin tapi boleh google aku di internet. Talian tetap rumahku
& e-mel yang sering kubuka idanradzi@yahoo.com pasti dapat menemukan aku dengan jalinan dulu.

Hukuman Bagi Orang Yang Memutuskan Tali Silaturahmi



Menurut Rasulullah SAW, Allah SWT akan melapangkan rezeki orang yang suka menyambung tali silaturahim. Allah juga akan memanjangkan umur kepadanya .

Imam Ali as. meriwayatkan dalam sebuah hadist, “Barangsiapa yang mengambil tanggung jawab atas suatu perkara, aku akan menjamin baginya empat perkara. Barangsiapa bersilaturahim, umurnya ak
an dipanjangkan, kawan-kawannya akan cinta kepadanya, rezekinya akan dipalangkan, dan ia aman masuk ke dalam surga. (Kanzul ‘Ummal). ''Juga Muhammad Baqir as. pernah mendapat wasiat dari ayahnya (Imam Zainul Abidin, as). Ia (kata Baqir) telah berwasiat kepadaku, “Janganlah duduk bersama lima jenis manusia. Jangan berbicara kepada mereka, bahkan jangan berjalan bersama mereka, meskipun tidak disengaja.

>Pertama, Orang Fasik.
Karena ia akan menjualmu hanya untuk sesuap makanan.

>Kedua, Orang Bakhil.
Karena ia akan memutuskan hubungan di saat kita kita memerlukan.

>Ketiga, Pembohong.
Karena ia akan menipumu. Karena ia akan senantiasa menipumu.

>Keempat, Orang Bodoh.
Karena ia berkeinginan memberikan manfaat bagimu, namun karena kebodohannya, ia jutru merugikanmu.

>Kelima, Orang yang memutuskan tali silaturahim.
Karenanya, janganlah berdekatan dengannya”.

Memutus tali silaturahim adalah sesuatu yang dilarang oleh agama Islam. Dalam Q.S an-Nisa’: 1, Allah berfirman, “Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-namaNya, kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan silaturahim.”