Translate

Asal kejadian jurnal@blog ini...

Asal kejadian isipati jurnal@blog ini adalah dari http://idanradzi.easyjournal.com tetapi nak jadi ceritera server sana asyik terhalang untuk diakses. Kini 2012 telah padam server Easyjournal ini.

Aku hanya sempat memindahkan sedikit sahaja data ke situs cermin ini. Alahai sedih amat.

Situs ini lebih kepada keterbukaan dalam soal Politik, usah dilabelkan situs haluan kiri atau pro parti mana pun. Pemilik asalnya adalah seorang Penyair nan lebih suka mendalami jiwa rakyat marhaen.

Bantu

Jumaat, 5 Mac 2004

Isteri Soleha dari Bahasa Indonesia (Delima Merkah)


Melacak Karakter Istri Sholihah dalam
al-Quran*
Makalah singkat ini menyajikan beberapa karakter perempuan sholihah yang diungkapkan beberapa ayat al-Quran. Pengungkapan ayat-ayat ini dikaitkan dengan upaya pembangunan keluarga yang diliputi suasana tentram, cinta kasih dan sayang atau keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah (samara) sebagaimana diungkapkan pada ayat:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. 30:21)

Ayat-ayat yang digunakan sebagian terkait langsung dengan posisi perempuan sebagai istri. Sebagian ayat lain tidak terkait langsung dengan posisi perempuan sebagai istri, akan tetapi bila kita telusuri lebih jauh, ayat-ayat ini berkaitan secara tidak langsung dengan posisi istri, semisal pengungkapan ayat-ayat terkait kisah Ratu Bilqis pada surat an-Naml atau ayat-ayat yang menggambarkan sifat para bidadari di surga. Insya Allah ayat-ayat ini akan diungkapkan dalam kerangka mengungkapkan karakter istri sholihah.

Untuk memudahkan pengkajian, penulis mengelompokkan ayat-ayat untuk menggambarkan karakter istri sholihah dalam tiga profil, yaitu:

Profil Kekasih
Profil Ibu
Profil Sahabat
1. Profil Kekasih

1.1. Taat kepada Allah

Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan. (QS. 66:5)

Menurut Muhammad Qutb, secara khusus ayat di atas merupakan pembelajaran bagi istri-istri Nabi, tentang makna kemuliaan sebagai istri di hadapan Allah swt. Akan tetapi orang beriman mendapatkan limpahan kerunia karena dapat mengambil pelajaran berharga dari pengajaran Allah ini.

Seorang perempuan sholihah itu pertama kali disifati dengan karakter ketaatannya kepada Allah swt. Mengapa kita menempatkan ketaatan kepada Allah ini sebagai karakter utama seorang kekasih? Jawabannya karena sebagai kekasih seorang itu mesti memelihara kecantikannya. Dan kecantikan hakiki seorang perempuan itu adalah pada ketaatan kepada Allah swt. Ini adalah puncak kecantikan batin, sebagaimana digambarkan Ibnul Qayyim. Dan kecantikan batin ini akan memperindah dan menyempurnakan kecantikan lahir.

Ketaatan kepada Allah diwujudkan dalam keimanan dan mewujudkan keyakinannya ini dalam amal perbuatan, taat terhadap semua aturan yang Dia tetapkan bagi perempuan muslimah, yang cepat menyadari kekeliruan dengan bertaubat, yang rajin beribadah, berpuasa dan senantiasa menjelajah kerajaanNya, ciptaanNya dan tanda-tanda keesaanNya dan kebenaran pengaturanNya di alam semesta. Inilah cakupan yang amat menyeluruh dari sifat keislaman bagi muslimah sholihah.

Diantara ketaatan praktis kepada Allah swt yang saat ini banyak ditinggalkan perempuan muslimah adalah berbusana menutup aurat (QS an Nuur:31 dan al-Ahzab:59). Ini merupakan fitnah yang amat serius, sebab Rasulullah saw pernah menegaskan,”Orang-orang perempuan yang berpakaian tetapi seperti telanjang, meliuk-liukan badannya dan rambutnya disasak, mereka tidak akan masuk surga, juga tidak akan mencium baunya surga, padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak amat jauh.” (HR. Muslim)

1.2 Taat kepada Suami

Perempuan yang sholihah, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara diri 289 ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka) 290 (QS. 4:34)

289: Maksudnya: tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.

290: Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.

Rasulullah saw menyampaikan,”Jika seorang istri itu telah menunaikan shalat lima waktu, shaum di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya,dan taat kepada suaminya, maka akan dipersilakan kepadanya: masuklah ke Surga dari pintu mana yang kamu suka." (HR Ibnu Hibban, al-Bazzar, Ahmad dan Thabrani, Albani menyatakan keshahihannya).

Pada pengajarannya yang lain, Rasulullah saw berkata,”Perempuan mana saja yang meninggalkan dunia sementara suaminya meridhainya pasti masuk Surga." (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Sebaliknya kedurhakaan kepada suami akan mendatangkan kutukan dari Allah, para malaikat dan segenap manusia. Cukuplah pelajaran yang terdapat pada surat at-Tahrim menjadi peringatan bagi kaum muslimah.

Diantara sikap taat para istri kepada para suami adalah meminta ijin kepada suami jika hendak keluar rumah (tidak keluar rumah kecuali dengan ijin suami), tidak meminta bercerai tanpa alasan yang dibenarkan syariah, menjaga kesopanan dan kehormatan saat keluar rumah, tidak mengeraskan suara melebihi suami, tidak membantah suaminya dalam kebenaran, dan tidak menerima tamu yang dibenci suaminya ke dalam rumah, apalagi bermesraan dengan lelaki lain.

1.3. Lembut dan Pemalu

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami" … (QS. 28:25)

Al Quran yang merupakan kalam Allah tak pernah menyampaikan sesuatu yang sia-sia. Begitu pula dengan disampaikannya sifat malu-malu pada ayat di atas, tentulah tersimpan hikmah untuk menggambarkan kemuliaan sifat perempuan.

Malu sendiri adalah bagian dari iman. Bahkan sebuah hadits pada Kumpulan 40 Hadits an-Nawawiy mengungkapkan: “Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan.” Penafsiran hadits ini paling tidak ada dua. Pertama, malu menjadi parameter apakah sebuah perbuatan layak dilakukan atau tidak. Kedua, orang yang rendah rasa malunya, akan melakukan apapun yang dia mau.

Sifat pemalu ini menunjukkan kemuliaan dan penjagaan kemuliaan dirinya. Bahkan sifat sopan dan pemalu ini dijadikan daya tarik pada bidadari, sebagaimana disebutkan pada ayat-ayat berikut:

Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya …(QS. 55:56)

Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. Maka ni'mat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah. (QS. 55:70-72)

1.4. Pencinta

Rasulullah saw bersabda,”Dunia ini perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah perempuan yang shalihah.” (HR Muslim). Kata perhiasan terkait dengan makna keindahan. Seorang perempuan shalihah senantiasa menjaga daya tarik dirinya bagi suaminya. Isyarat tentang para bidadari menggambarkan keindahan dan keadaan penuh cinta pada mereka.

Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. (QS. 56:22-23)

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung 1452, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya, (QS. 56:35-37)

1452: Maksudnya mereka diciptakan tanpa melalui kelahiran dan menjadi gadis.

Rasulullah saw mengisyaratkan keadaan istri terbaik,”Istri yang paling baik adalah, bila suami memandang kepadanya memberikan kebahagiaan; Bila menyuruhnya, mentaatinya.; Bila sang suami bepergian, ia menjaga dirinya dan hartanya." (HR An-Nasai dan dishahihkan oleh al-Iraqi).

Istri shalihah senantiasa menyenangkan hati suaminya dan menjaga suasana mesra tetap bersemi dalam keluarga. “Sesungguhnya apabila seorang suami menatap istrinya dan istrinya membalas pandangan (dengan penuh cinta kasih), maka Allah menatap mereka dengan pandangan kasih sayang. Dan jika sang suami membelai tangan istrinya, maka dosa mereka jatuh berguguran di sela-sela jari tangan mereka." (HR Maisaroh bin Ali dari Abu Said bin al-Khudri).

Saat ini para suami dihadapkan pada godaan besar di sisi hubungan intim pria-wanita. Banyak perempuan yang secara sadar atau tidak telah menjadi penggoda kaum pria baik langsung ataupun tak langsung. Maka menjadi salah satu tanggung jawab mulia bagi para istri untuk membantu para suami mencurahkan cinta mereka pada sesuatu yang halal. Di sinilah makna larangan bagi para istri menolak ajakan para suami, seperti tercatat dalam pengarahan Rasulullah saw berikut ini:

“Bila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu ia menolak sehingga suaminya semalaman marah kepadanya, maka malaikat mengutuknya hingga pagi." (Muttafaqun alaihi)

Jadi hadits ini mesti ditempatkan dalam kerangka menjaga hubungan mesra dan cinta; Bukan menempatkan perempuan dalam posisi tertekan dan terpaksa dalam menjalankan hubungan intim suami-istri.

2. Profil Ibu**

2.1. Memiliki Visi Pendidikan untuk Mengabdi kepada Allah

Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk". (QS. 3:35-36)

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a: "Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni'mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS. 46:15)

Ayat-ayat di atas mengajarkan agar para Ibu muslimah menjadikan visi terbesar pendidikan anak untuk menjadikan mereka para hamba Allah yang senantiasa berkhidmat kepada Allah swt. Kesuksesan utama orang tua dalam pendidikan anak adalah manakala mereka menjadi orang-orang yang pandai bersyukur kepada Allah.

Sikap syukur ini menyiratkan kebaikan-kebaikan mereka terhadap sesama manusia. Sebab syukur dalam makna yang luas berarti memanfaatkan segala kebaikan Allah swt untuk mentaatiNya. Artinya berbagai perbuatan kebajikan adalah perwujudan terima kasih kita kepada Allah. Dalam kerangka berpikir ini kita menemukan pentingnya pendidikan bagi anak, sebab pendidikan lah yang akan membuat seorang manusia memiliki karakter atau akhlak mulia.

Untuk itu seorang Ibu dituntut melengkapi wawasan dan pengetahuannya untuk mendidik anak-anak. Diantara pengetahuan mendasar bagi anak-anak adalah:

§ Dalam sisi keagamaan: tilawah Quran (serta pemahamannya pada hal-hal mendasar) dan sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya ra. Pengetahuan dasar keagamaan ini akan menjadi fondasi bagi kekokohan aqidah dan akhlak.

§ Dalam sisi pengetahuan dan keterampilan umum: komunikasi-berbahasa (termasuk sastra), logika-matematika, pengetahuan sejarah dan musik-bernyanyi.

2.2. Memiliki Keyakinan Kuat terhadap Janji Allah

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. (QS. 28:7)

Dalam menghadapi berbagai tantangan jaman, seorang Ibu mesti senantiasa optimis, bahwa Allah akan menolong mereka mendidik anak-anaknya menjadi manusia berguna di masa depan. Sikap teguh Ibunda Nabi Musa sebagaimana digambarkan pada surat al-Qashash menjadi teladan utama dalam bersikap yakin akan bantuan Allah swt ini.

Ibu Musa ditakdirkan melahirkan anaknya dalam kondisi amat berat, yaitu ketika Firaun, penguasa yang amat zhalim saat itu, mengeluarkan perintah untuk membunuh anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil, karena alasan ketakutan akan runtuhnya kerajaannya. Akan Allah swt memerikan keteguhan kepada Ibu Musa dan dengan dibantu oleh kakak perempuan Musa, Ibu Musa berhasil melalui masa-masa sulit tersebut untuk melindungi dan memelihara Musa.

Kisah di atas menjadi pelajaran berharga bagi para ibu muslimah. Saat ini tantangan yang dihadapi dalam mendidik anak-anak amat besar. Kita dihadapkan pada berbagai tantangan dalam mendidik anak-anak, mulai dari seleksi pendidikan yang berkualitas, tantangan finansial, tantangan lingkungan hingga tantangan pada diri kita sendiri. Untuk tantangan lingkungan, kita menyaksikan banyaknya “polusi” berita dan informasi tentang kekerasan atau tindakan a-susila baik dalam bentuk tulisan ataupun tayangan-tayangan audio visual.

Dalam kondisi ini peran para Ibu amatlah besar untuk menjaga anak-anak agar tumbuh pada fitrah kesuciannya. Modal paling besar bagi para Ibu adalah kedekatan dengan Allah swt, memahami pengarahan (taujih) dan pengajaran dari Allah swt melalui al-Quran dan sunnah NabiNya. Untuk itu para Ibu hendaknya senantiasa mengadakan pengkajian yang mendalam terhadap dua sumber utama ajaran Islam ini

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. (QS. 33:34)

2.3. Penuh Suka Cita dalam Mendidik

Dan berkatalah istri Fir'aun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa'at kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedangkan mereka tiada menyadari. (QS. 28:9)

Sikap kasih sayang kepada anak-anak adalah fitrah yang Allah berikan kepada para Ibu untuk mendidik anak-anak mereka. Selama fitrah ini terjaga baik, seorang Ibu akan menjadikan perhatian pada anak sebagai perhatian terbesar dalam hidupnya. Kisah jatuh cintanya Asiyah istri Firaun kepada bayi Musa diabadikan al Quran untuk menggambarkan fitrah ini. Padahal Musa bukanlah anak kandungnya sendiri. Hendaknya sikap kasih sayang ini terus menyertai proses pendidikan anak.

Satu tantangan yang dihadapi para Ibu masa kini adalah tarikan untuk berkarir dan mencari penghasilan yang besar. Tarikan ini terjadi karena struktur sosial-ekonomi-masyarakat yang “memaksa” sebagian ibu-ibu untuk bekerja mencari nafkah. Padahal di dalam ajaran Islam, kewajiban mencari nafkah ini ada pada pundak para bapak. Motivasi lain adalah karena adanya kelemahan pola hubungan suami-istri. Sebagian istri merasa khawatir dirinya direndahkan oleh suami apabila tidak memiliki penghasilan sendiri. Tentu saja kondisi ini pun tidak seharusnya terjadi dalam keluarga muslim, sebab ajaran Islam telah memerintahkan para suami untuk bersikap kasih sayang dan adil dalam memimpin rumah tangga. Yang patut diwaspadai adalah ketika kaum perempuan justru sangat menikmati karirnya, sehingga meletakkan masalah pendidikan dan kasih sayang kepada anak pada prioritas ke sekian dibandingkan karirnya. Bahkan misalnya pada sebagian kalangan perempuan ada pandangan bahwa memiliki anak itu akan mengganggu karir mereka.

3. Profil Sahabat (Mitra)

3.1. Pencari Kebenaran

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat 1462. (QS. 58:1)

1462: Sebab turunnya ayat ini adalah berhubungan dengan persoalan seorang wanita yang bernama Khaulah binti Tsa'labah yang telah didzihar oleh suaminya Aus bin Shamit, yaitu dengan mengatakan kepada isterinya: "Kamu bagiku sudah seperti punggung ibuku", dengan maksud dia tidak boleh lagi menggauli isterinya, sebagaimana ia tidak boleh menggauli ibunya. Menurut adat Jahiliyah kalimat seperti itu sudah sama dengan menthalak isteri. Maka Khaulah mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw menjawab bahwa dalam hal ini belum ada keputusan dari Allah. Dan pada riwayat yang lain, Rasulullah saw mengatakan: "Engkau telah diharamkan bersetubuh dengan dia". Lalu Khaulah berkata: "Suamiku belum menyebut kata-kata thalak". Kemudian Khaulah berulang-ulang mendesak Rasulullah saw agar menetapkan suatu keputusan dalam hal ini, sehingga kemudian turunlah ayat ini dan ayat-ayat berikutnya.

Seorang muslimah hendaklah terus bersemangat mencari dan menegakkan kebenaran sebagaimana ditunjukkan pada contoh sahabiyah Khaulah binti Tsalabah ini. Dengan demikian ia akan menjadi partner diskusi yang handal bagi suaminya.

3.2. Memiliki Kriteria Tepat tentang Pendamping Hidup

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (QS. 28:26)

Menilik ayat di atas, sepertinya karakter ini berlaku bagi mereka yang belum menikah. Ayat di atas mengungkapkan kalimat putri seorang yang sholih di negeri Madyan, negeri tempat Musa muda melarikan diri dari kejaran Firaun. Sebagian penafsir mengatakan orang sholih ini adalah Nabi Syu’aib as. Begitulah gambaran seorang gadis yang cerdas dan sholihah menginterpretasikan sifat baik seorang pemuda. Ia tempatkan gejolak curahan hatinya mencari pasangan hidup, sekaligus melindungi posisinya dari kemestiannya bekerja dengan saudara perempuannya, karena sang ayah telah lanjut usia. Sang ayah pun memahami rahasia yang disembunyikan anak gadisnya. Setelah berbincang dengan Musa, ia menawari Musa untuk bekerja di tempatnya, dan ia berjanji akan menikahkan Musa dengan putrinya (kisah ini ada pada rangkaian ayat di atas, sebelum dan sesudahnya)

Akan tetapi bagi para muslimah yang telah menikah pun kisah di atas mengungkap pelajaran berharga. Perhatikanlah, perempuan sholihah meletakkan parameter lahir dan batin secara seimbang dalam berinteraksi dengan pasangan hidupnya. Maka semestinya apresiasi seorang istri kepada pasangannya pun selalu seimbang diantara sisi fisik dan psikis. Dalam kehidupan berumah tangga ini dapat diterjemahkan dalam bentuk perhatian pada pola makanan, pola istirahat, olah raga dan juga pada pola pendidikan serta pola ibadah ritual yang senantiasa mewarnai kehidupan suami-istri. Semakin panjang usia pernikahan, semakin terasa kebutuhan untuk saling mengingatkan dalam menjaga kondisi prima fisik dan psikis.

3.3. Kesetaraan di Hadapan Allah

Dikatakan kepadanya: "Masuklah ke dalam istana". Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: "Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca". Berkatalah Balqis: "Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam". (QS. 27:44)

Ketika Ratu Balqis telah menyaksikan kerajaan besar yang Allah karuniakan kepada Nabi Sulaiman as dan mengetahui siapakah yang benar-benar harus disembah di muka bumi ini, sadarlah ia bahwa ternyata perbuatannya dan kaumnya (di antaranya menyembah matahari) adalah perbuatan yang zhalim. Akan tetapi perhatikanlah, Ratu Bilqis tidak pernah menyatakan ketundukan kepada Sulaiman. Yang ia ucapkan adalah bahwa ia bersama Sulaiman tunduk patuh, berserah diri kepada Allah swt.




Dari ayat ini kita mendapatkan taujih Rabbani (pengarahan Ilahi), bahwa kedudukan kaum perempuan dan kaum lelaki di hadapan Allah swt itu sama, yaitu sebagai hamba. Islam telah memuliakan kedudukan kaum perempuan. Untuk itu kaum muslimah hendaknya senantiasa menjaga kemuliaan ini dan bahu-membahu bersama para suami mereka dalam menegakkan kebenaran.

3.4. Berkontribusi Aktif dalam Kerja Sosial dan Da’wah

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min 1219, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. 33:35)

1219: Yang dimaksud dengan "orang muslim" di sini ialah orang-orang yang mengikuti perintah dan larangan pada lahirnya, sedang yang dimaksud "orang yang mu'min" di sini ialah orang yang membenarkan apa yang harus dibenarkan dengan hatinya.

Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain 259. (QS. 3:195)

Sebab turunnya dua ayat di atas terkait langsung dengan kehidupan para muslimah di masa kehidupan Nabi Muhammad saw. Ayat pada surat al Ahzab turun karena adanya ucapan Ummu ‘Imarah al-Anshari kepada Rasulullah saw,”Kami menyaksikan segala sesuatu (terkait ajaran Islam) hanya bagi lelaki dan kami tidak melihat kaum perempuan disebut-sebut.” (diriwayatkan at-Tirmidzi melalui Ikrimah). Atau melalui Ibnu ‘Abbas diriwayatkan bahwa para muslimah berkata kepada Nabi saw,”Ya Rasulullah, mengapa hanya disebutkan kaum beriman lelaki dan tidak disebutkan kaum beriman perempuan?” (diriwayatkan ath-Thabrani). Sedangkan pada riwayat lain dikabarkan bahwa para muslimah menanyakan mengapa hanya para istri Nabi yang disebutkan. Mereka berkata,”Kalaulah pada kami ada kebaikan, tentu kami disebutkan.” Maka Allah swt menurunkan ayat di atas. (diriwayatkan Ibnu Sa’ad dari Qatadah)

Adapun untuk ayat pada akhir surat Ali ‘Imran, diriwayatkan bahwa Ummu Salamah berkata,”Ya Rasulullah, aku tidak mendengar Allah menyebutkan kaum perempuan dalam peristiwa Hijrah sedikitpun.” Maka Allah swt menurunkan ayat tersebut. (diriwayatkan oleh Abdur Razaq, Said bin Manshur, at-Tirmidzi, al-Hakim, dan Ibnu Abi Hatim).

Setelah kita ketahui konteks sosial sebab turunnya, ayat-ayat di atas semakin meneguhkan adanya peran sosial dan da’wah yang penting dari kaum perempuan sejak masa pertama turunnya ajaran Islam. Ini berlaku bagi semua perempuan. Mereka tidak kalah dengan kaum lelaki dalam melakukan seluruh aktifitas kehidupan, mulai yang sifatnya ibadah ritual hingga aktifitas sosial dalam rangka memperbaiki kondisi masyarakat.

WaLlaahu a'lamu bish shawwab.




Beberapa Buku Bacaan

Aisyah Abdurahman, Istri-istri Nabi saw., Pustaka Mantiq, 1988


Abu Mohd Rosyid Ridho, Wanita Sholihah: Ciri-ciri dan Fungsinya, Hikmah, Medan, 1985


Ibnu Ahmad Dahri, Peran Ganda Wanita Modern, Pustaka al-Kautsar, 1991


Ibnul Qayyim, Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu.


Ibrahim bin Shalih al-Mahmud, Kiat Hidup Bahagia dengan Suami Anda, Firdaus, 1992


Khairiyah Husain Thaha, Konsep Ibu Teladan: Kajian Pendidikan Islam, Risalah Gusti, 1992


Muhammad Qutb, Figur Wanita Sorga dan Neraka, Penerbit Amarpress, 1987
As-Suyuthi, Asbabun Nuzul.


--------------------------------------------------------------------------------

* Disampaikan pada acara diskusi tentang Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rahmah (Samara) yang diselenggarakan oleh Majlis Ta'lim Ibu-ibu pada Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII)-Tokyo bekerja sama dengan Forum Silaturahmi Muslimah (Fahima)-Jepang di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT), Jumat, 9 Juni 2006; Dan sebagiannya disampaikan pada Kajian Muslimah (kamus), Senin, 26 Juni 2006.

** Sebetulnya istri sholihah dalam profil ibu memiliki dimensi lain daripada apa yang disampaikan makalah ini, yaitu secara kejiwaan seorang istri memberikan ketentraman bagi suami, laksana seorang ibu kepada anaknya. Ada pembahasan menarik dari Prof. Dr. Aisyah Abdurrahman tentang suasana kejiwaan Muhammad bin Abdullah saw di masa anak-anak dan remajanya yang telah ditinggal wafat ibunya pada usia 6 tahun. Suasana kejiwaannya merindukan seseorang yang bisa memberikan ketentraman bagai seorang ibu baginya. Allah swt Maha Pengasih, dengan takdir-Nya yang penuh hikmah, Muhammad pun dipertemukan dengan Khadijah. Pernikahannya dengan Khadijah, seorang perempuan yang matang jiwanya serta penuh kelembutan, seolah merupakan jawaban bagi Muhammad yang telah ditinggalkan ibunya sejak masa anak-anak. Ya ... dari Khadijah ini, Muhammad mendapatkan sentuhan lembut laksana seorang ibu, yang terus memberikan kasih sayang dan dukungan. Bahkan dukungan Khadijah ini semakin besar dan berarti ketika Muhammad telah diangkat menjadi Rasul Allah. Demikian kurang lebih kupasan Prof. Aisyah pada bab yang menerangkan profil Khadijah ra sebagai istri dalam buku "Istri-istri Nabi saw".

http://adijm.multiply.com

Isnin, 1 Mac 2004

Pilai Lawan


Kenangan masa lalu, tangkap ikan Pilai Lawan di Alor Kiteh Mat Jadi.
Cantik ikan ini; selalunya jika ia masih anak
aku sering taruh dalam botol
tanam pangkal pokok pisang.

Sabtu, 14 Februari 2004

Puisi Hari Kekasih Allahyarhamah Anna Abadi (Delima Merkah)


Buat Kekasih Di Bulan Februari
~sempena Hari Memperingati Kekasih~

Kekasih
Aku tak pandai berbicara romantis
dihadapanmu aku menjadi kaku
tak terluah baris-baris cinta
walau di hati meronta
ingin kau mengetahuinya
cintaku padamu bukannya mainan
tetapi sesuatu yang tulus
tak ternilai dengan harga!

Lalu di suatu hari
di bulan Februari
kukarangi sebuah puisi untukmu
coretan merah jambu ini
sebagai pengganti bicaraku
yang tak terluahkan selama ini

Kekasih
kau begitu penting dalam hidupku
aku memerlukanmu lebih dari yang kau sangkakan
aku merinduimu lebih dari pungguk rindukan bulan
aku mendambakanmu lebih dari
sang puteri mendambakan putera rajanya
dan aku mencintaimu
lebih dari kau menyintai diriku...

Kekasih
kalungi puisi ini dalam tangkai hatimu
agar setiap saat dapat kau merasakan
getaran cintaku yang semakin kuat
moga kau mengerti
hidup ini tak selalunya indah
tapi keindahan dapat kurasakan
setiap kali memandang wajahmu
membiaskan cinta
yang tulus dan suci........

Sesungguhnya, kasihku...
aku ingin tua bersamamu

Nukilan:
Anna Abadi
14 Februari 2004

Ahad, 1 Februari 2004

Beruang


Hidup ke beruang ini?

Jumaat, 2 Januari 2004

Burung & Rezeki


Sepadan dengan kelincahan ia, dapat menangkap unggas nan liar.

Khamis, 1 Januari 2004

Pertahankan tanah pusaka (Cerita Ceritera)


OlehHASSAN AHMAD

KITA menjadi rakyat negara ini kerana antara lain kita mempunyai kawasan atau tanah - tanah pusaka nenek moyang kita. Dengan kata lain, kita mempunyai tanah, tempat tumpah darah kita, yang di atasnya kita mempunyai hak mendirikan rumah kita, bercucuk tanam, dan sebagainya.

Inilah salah satu kriteria penting yang mentakrifkan kedaulatan sesebuah negara atau sesuatu bangsa, iaitu kebebasan atau kemerdekaannya di tanah airnya sendiri.

Kedaulatan negara dan bangsa bukanlah ‘benda’ yang abstrak, bukan konsep yang diciptakan oleh imaginasi dan perasaan cinta tanah air semata-mata, tetapi ia merupakan konsep atau entiti yang nyata, yang konkrit.

Tanpa tanah, tanpa kawasan yang kita miliki sejak zaman nenek moyang kita sebagai pusaka kita, tidak bolehlah kita dikatakan bangsa yang ‘berdaulat’.

Jikalau kita hanya menumpang atas tanah milik orang asing di tanah air sendiri disebabkan tanah kita sudah berikan kepada pelabur asing, itu bererti kita sudah kehilangan suatu hak harta, iaitu tanah, yang mentakrifkan kita sebagai ‘rakyat’ tanah melayu atau Malaysia ini.

Taraf kita samalah seperti warga asing yang ‘menumpang’ di Malaysia (misalnya sebagai pekerja asing).

Perhatikan bahawa orang Melayu menggunakan istilah tanah air. Gabungan dua kata ini, ‘tanah’ dan ‘air’ tidak terdapat dalam bahasa Inggeris atau dalam bahasa-bahasa lain.

Berdasarkan istilah ini kita dapati bahawa orang Melayu mementingkan tanah dan air bukan sahaja sebagai syarat untuk membentuk konsep ‘negeri’ tetapi juga sebagai sumber ekonomi dan sumber hidup yang asas bagi rakyat di negeri ini.

Tanpa tanah dan tanpa air, manusia sukar hidup di dunia ini. Kerana inilah sejak dahulu hingga hari ini, tanah - dan air - sering menjadi punca peperangan. Rakyat Palestin, misalnya, sanggup mati untuk mempertahankan tanah mereka, walaupun seinci, atau untuk mendapatkan semula tanah yang telah dirampas oleh Israel, sama ada melalui peperangan ataupun melalui taktik dan muslihat lain yang lebih halus.

Maka hairanlah kita sekiranya ada negara yang sanggup menjual tanah, air dan sebagainya kepada orang asing atau kepada negara asing kononnya demi kemajuan, demi pembangunan ekonomi - yang selalunya hasilnya atau kesannya tidak sampai kepada rakyat yang miskin dan terpinggir.

Barangkali bangsa Melayu patut belajar daripada sejarah, tentang bagaimana Singapura, misalnya, akhirnya jatuh ke tangan orang lain, melalui syarikat asing, iaitu Syarikat East India Company atau syarikat Hindia Timur Inggeris (SHT). Stamford Raffles bertugas sebagai wakil Syarikat ini yang ditubuhkan oleh kerajaan Inggeris untuk mencari kawasan perdagangan dan ekonomi di luar England, dan akhirnya untuk menjajah negeri orang lain.

Apabila penjajah Belanda menguasai Melaka hingga awal abad ke-19 (setelah mereka mengalahkan bangsa Portugis di situ dengan bantuan askar-askar Melayu dari Johor), Syarikat Hindia Timur Inggeris mulai mencari kawasan lain untuk menjadi kawasan atau pusat perdagangannya untuk menyaingi Melaka.

Singapura

Kawasan yang dianggap sesuai ialah Singapura. Pulau ini ialah milik bangsa Melayu atau merupakan tanah takluk kerajaan Johor-Riau, bukan merupakan pulau kosong seperti “Pulau Robinson Crusoe” yang boleh diduduki, dicuri atau dimiliki oleh bangsa lain.

Raffles cepat-cepat mempengaruhi Temenggung Abdul Rahman, waris kerabat diraja Johor yang berada di pulau itu. Abdul Rahman dianugerahi gelaran ‘Temenggong’ oleh kerajaan Johor-Riau dan Singapura diberikan kepadanya sebagai hak warisnya. Raffles mengadakan perjanjian (pada 30 Januari 1819) dengan Temenggung Abdul Rahman, membenarkan Syarikat Hindia Timur Inggeris membina loji atau kilang di Singapura. Sebagai balasannya, SHTI bersetuju memberi semacam sagu hati atau elaun sebanyak ‘3000 rial setahun’ kepada Temenggung.

Pada 6 Februari 1819 suatu perjanjian lain telah ditandatangani antara Raffles bagi pihak SHT dengan Sultan Hussain Muhammad Syah, Sultan Johor-Riau, dan Temenggung Abdul Rahman untuk mengesahkan perjanjian yang terdahulu. Salah satu fasal baru, iaitu Fasal Kelima, yang terkandung dalam Perjanjian baharu itu ialah, Sultan Hussain dan Temenggung Abdul Rahman tidak dibenarkan membuat apa-apa perjanjian perniagaan dengan mana-mana pihak lain, baik dengan orang putih dari Eropah, baik dari AS, di Singapura selama ‘kompeni Inggeris ada duduk di dalamnya’.

Perjanjian ini juga menetapkan pembahagian hasil negeri: Temenggong mendapat dua bahagian daripada ‘hasil cukai segala perahu kapal orang hitam dan laka oleh kompeni Inggeris membayar segala belanja atas menjaga bendera (iaitu bendera Inggeris) terima hasil cukai itu’.

Melalui Perjanjian itu SHII tidak sahaja diberi hak untuk mendirikan kemudahan perniagaan di pulau Singapura tetapi juga hak menempatkan angkatan tenteranya di pulau itu dan hak untuk menguatkuasakan undang-undang dan peraturan Inggeris ke atas penduduk pulau, khususnya di kawasan yang dikuasai oleh syarikat Inggeris itu.

Pada 2 Ogos 1824 pihak Inggeris yang diwakili oleh John Crawford, Residen Singapura, dan Sultan Hussain serta Temenggong Abdul Rahman menandatangani satu perjanjian lagi. Melalui perjanjian ini kedua-dua pembesar Melayu itu bersetuju menyerahkan pulau Singapura ‘dengan laut dan selat dan pulau kecil-kecil iaitu sepuluh batu jauhnya berkeliling Pulau Singapura itu menjadi hak milik kerajaan Kompeni Inggeris sampai kepada warisnya yang akan menggantikan dia selama-lamanya’

Sebagai gantinya, SHT bersetuju membayar kepada Sultan Hussain tiga puluh tiga ribu dua ratus ringgit sekali bayaran dan pada tiap-tiap bulan seribu tiga ratus ringgit seumur hidup Sultan itu. Temenggong Abdul Rahman dibayar dua puluh enam ribu delapan ratus ringgit sekali bayaran dan sebanyak tujuh ratus ringgit sebulan seumur hidup. Perjanjian ini juga menyebut bahawa sekiranya Sultan Hussain dan Temenggong atau waris mereka berhajat untuk berpindah dari Singapura dan tinggal di mana-mana tanah lain milik mereka (yakni, di luar pulau Singapura) maka SHT akan membayar sebanyak dua puluh ribu ringgit lagi kepada Sultan Hussain atau warisnya dan sebanyak lima belas ribu ringgit lagi kepada Temenggong atau warisnya.

Segala hak milik mereka yang tidak dipindahkan, seperti tanah, rumah, kebun dan segala jenis kayu yang terdapat di pulau Singapura dan di semua pulau takluk Singapura diserahkan kepada SHT sampai kepada warisnya selama-lamanya. Tetapi selama kedua-dua pembesar Melayu itu menerima bayaran bulanan daripada SHT mereka tidak dibenarkan mengadakan apa-apa perjanjian dengan mana-mana bangsa lain tanpa pengetahuan SHT atau warisnya yang akan menggantikannya selama-lamanya.

Abdullah Munsyi, dalam karyanya yang terkenal, Hikayat Abdullah, menceritakan bagaimana Sultan Hussain dan Temenggung terpaksa mengemis meminta wang tambahan daripada Raffles atau dari SHT kerana mereka sentiasa kehabisan wang untuk membiayai perbelanjaan para pengikut mereka yang berfoya-foya di pulau itu, dan sering melakukan pergaduhan dan kekacauan.

Akhirnya mereka ‘dinasihatkan’ oleh Raffles supaya berpindah dari kawasan Melayu di Kampung Gelam ke kawasan tidak maju, jauh dari pusat bandar, iaitu ke Teluk Belanga. Memang itulah rancangan jangka panjang SHT, iaitu untuk mengusir mereka dari Singapura atau untuk meminggirkan mereka daripada ‘proses pembangunan’ yang sedang dilakukan oleh SHT. Abdullah Munsyi menjelaskan bagaimana pembesar Melayu itu tertipu oleh muslihat dan ‘mulut manis’ Raffles memujuk orang Melayu supaya berpindah ke kawasan lain.

Raffles menggunakan wang untuk mempengaruhi pembesar Melayu supaya menyerahkan tanah mereka kepada syarikat asing, iaitu Syarikat East India Company atau Syarikat Hindia Timur Inggeris.

Demikianlah kisah bagaimana tanah milik kerajaan Melayu, milik nenek moyang Melayu, akhirnya dijual atau berpindah milik kepada orang asing melalui sebuah syarikat yang disebut Syarikat East-India Company.

Diharap kisah ini tidak berulang lagi. Tandanya sudah ada dan nampaknya makin hari makin jelas. Bangsa yang pandai, yang cemerlang akal, yang bijak, tidak akan menjual ‘tanah airnya’ kepada kuasa asing melalui pelaburan asing, atau pun melalui diplomasi tolak ansur’.

* DATUK DR. HASSAN AHMAD ialah Pengerusi Eksekutif Yayasan Karyawan.

Utusan Malaysia

Selasa, 1 Julai 2003

Rujuk sunnah rahsia generasi silam dicontohi (Agama)


PEMAHAMAN umat Islam hari ini terhadap hadis dan sejarah nabi banyak bergantung kepada penjelasan dan kefahaman yang diwarisi daripada generasi Islam silam khususnya generasi ulama terdahulu.

Hadis nabi yang sudah terpelihara sejak dulu sama ada daripada segi riwayat seperti yang kita peroleh hari ini bukan petanda bahawa tanggungjawab umat Islam memelihara kedudukan hadis sudah selesai.

Pensyarah Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universiti Sains Malaysia, Prof Madya Mohd Radzi Othman, berkata setiap umat Islam bertanggungjawab mempelajari serta memahami ilmu hadis seperti mana generasi silam bersumberkan wahyu daripada Allah SWT.

Katanya, ilmu itu sama ada berkaitan urusan dunia atau akhirat yang bersifat ghaib, jika ia dinisbahkan kesahihan kepada Nabi Muhammad SAW, sudah memadai untuk meyakinkan isi kandungannya walaupun masih ada bahagian yang belum difahami dengan jelas oleh akal manusia.

“Kebenaran dan kesahihan nisbah kepada Nabi Muhammad SAW sangat penting. Apabila sudah sah sanadnya, memadai untuk kita menerimanya. Memang ada hadis yang gagal untuk difahami dengan jelas contohnya hal berkaitan alam ghaib.

“Banyak hadis Nabi menyebut mengenai alam ghaib tetapi kita tidak faham dan kebanyakan kefahaman kita bergantung kepada apa yang diperkenalkan sahabat serta golongan selepas sahabat. Ada juga yang kita tertanya tetapi tidak ada jawapan sehingga saat Allah SWT kehendaki nanti.

“Untuk memahami hal yang demikian, jangan terpedaya dengan kelebihan akal hingga kita membuat andaian berlebihan atau yang tidak sepatutnya,” katanya.

Beliau yang membentangkan kertas kerja bertajuk Penyelewengan dalam Pemahaman Hadis dan Sirah serta Kesannya Terhadap Pemahaman Jemaah Islam Semasa menegaskan kefahaman Islam perlu mengambil kira tabiat Islam yang bersifat sejagat daripada saat munculnya hingga ke hari ini.

Justeru katanya, skop pemahaman mengenai Islam perlu bersikap menyeluruh merangkumi segenap aspek kerana seperti al-Quran, sunnah yang menjadi sumber ilmu kedua relevan untuk seluruh manusia daripada dulu hingga hari ini.

Mohd Radzi berkata, kedudukan hadis dan ilmu berkaitan dengannya penting bukan saja untuk menangani serta menyelesaikan permasalahan umat, malah sebagai panduan hidup kepada umat Islam sepanjang zaman.

Katanya, menyedari penyelewengan secara sengaja mahupun tidak sengaja dalam proses penyaringan hadis boleh mengundang bahaya kerana kandungan hadis Nabi merangkumi semua aspek keagamaan, ulama berhempas pulas memelihara keaslian hadis,

“Sahabat mengambil berat mengenai pentingnya hadis Nabi yang diterima mereka kerana itu adalah agama Allah SWT. Oleh itu, mereka terlebih dulu menghayati ajarannya sebelum diceritakan kepada sesiapa saja atau disampaikan kepada sahabat lain tanpa sebarang pengubahsuaian.

“Kesungguhan generasi silam perlu diikuti generasi hari ini di mana setiap isu yang mereka hadapi akan diselesaikan mengikut panduan dari Allah SWT dan Rasulnya. Inilah rahsia bagaimana mereka menjadi umat terbaik yang layak menjadi contoh umat Islam pada bila-bila masa,” katanya.

Beliau berkata, sejarah membuktikan tidak ada satu hadis palsu atau yang dipalsukan sahabat dan sikap itu perlu diwarisi pelapis kerana penyimpangan terhadap ilmu hadis boleh menyebabkan berlaku perpecahan.

Katanya, mengikut sunnah Nabi menjadi satu kemestian kepada umat Islam dalam semua urusan hidup mereka kerana tidak ada yang lebih baik daripada sunnah Nabi yang menentukan dasar serta tatacara hidup berdasarkan risalah diterima daripada Allah SWT dan disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.

“Kemampuan akal fikiran sangat terhad berbanding ilmu yang diperoleh dan difahami daripada sunnah Nabi. Bagaimanapun, akal menjadi faktor pembantu untuk memahami sekadar termampu bukan faktor penentu. Selebihnya, Allah SWT yang menentukan,” katanya.

Berita Harian